NASIB PEGAWAI KEBUN BINATANG


”Alhamdulillah,,, akhirnya libur juga,,,
Ada angin apa ya sama si bos,,, ko mau hari raya gini karyawan kebun binatang diliburkan, padahal kan kalau hari raya banyak pengunjung, apa binatangnya mau pada dikawinin ya hahaha! Ah masa bodo ah,,, yang penting aku bisa mudik, lagian aku dah gatel ko pengen kawin hahahaha,,,
Hemmm,,,kira2 tahun ini aku dapet THR berapa ya dari si bos” bisik tya sambil duduk santai dan ketawa2 sendiri di depan kantin tempat biasa dia makan,

”Tyaaaaa,,,, woyyyyyyyyy,,,,”
Jerit Sintya teman tya yang memanggilnya dari kandang kingkong,,,,
Tya pun segera menghampiri sintya yang sedang memandikan kingkong2 yang ada di kebun binatang tsb,,,

”Ada apa si sintya, ganggu orang lagi santai aja,, tanya tya keras,,,

”Tya,,, bantuin aku dong, tolong mandiin kingkong2 yang lain ya, aku cape sendirian tau,,, pinta Sintya memelas,,,

”Eh sintya,,, itu kan bagian kamu, kerjaanku kan dah kelar, aku tinggal nunggu THR aja,,,” jawab tya menolak,,,

”Tyaaa,,, plisssss,,,, bantuin aku ya,,, nanti kalau udah kelar kita ambil THR bareng2,,,” pinta sintya lagi,

Ga mau ah,,, aku cape,,, aku mau santai, kalau kamu mau, minta tolong aja sama Si Yadnoe, kerjaan dia nyebokin monyet kan dah kelar juga,,, jawab tya yang tetap menolak,,,

Saking kesalnya, sintyapun langsung pergi menghampiri yadnoe yang tengah duduk santai di samping kandang monyet,,,

Ketika sintya berdiri didepan Yadnoe, tiba2 sintya gugup untuk meminta bantuan, karna ketika Yadnoe tengah duduk, resletingnya terbuka dan terlihat isinya😛

”Ada apa Sintya,,,” tanya Yadnoe santai,,,

”Ad,,, ad,, ad,, ada burung,, eh monyet,, eh ,,, burung monyet,,,“ jawab sintia gugup sambil menutup muka dengan jarinya!!!

“Ada burung apa monyet sintya“ tanya yadnoe keras,,,

Kemudian Sintyapun menunjuk kearah resletingnya, seketika muka Yadnoe pun memerah, dia baru sadar kalau burungnya keliaran,

“Sintyaaaaaaa,,,,“ panggil Suraz, seorang mandor dari kebun binatang yang tiba2 datang memarahinya,,,

“Kamu ini gimana si,,, kenapa kingkong2 itu belom kamu mandikan semua hah,,,tanya Suraz kasar,,,

“Maaf mas, tadi saya kecapean, ga ada yang membantu saya memandikan kingkong2 itu mas,,,“ jawab sintya pelan,

”Tyaaaaaa,,, Yadnoeeeee,,,, kesini kalian,,, panggil Suraz emosi,,,

Kemudian Tya dan Yadnoepun menghampiri mandor tsb!

”Tya,,, Yadnoe,,,kalian ini gimana si, sudah tau Sintya kerja sendiri, kenapa ga kalian bantu hah, udah ketek kalian bau2, ga mau bantu temen lagi, sekarang kalian bantu sintya memandikan kingkong2 itu cepat!!!ucap mandor sambil beranjak pergi!

***
Beberapa saat kemudian, pekerjaan Sintya pun beres,
Tya, Sintya Dan yadnoe pun dipanggil Oleh suraz untung menerima uang gaji sekaligus THR!
Dan Setelah Suraz membagikan uang gaji dan THR, ketiganyapun begitu bahagia, dan merekapun menghitung uang gaji dan THR nya masing2!

Namun setelah Sintya dan Yadnoe tau kalau uang Gaji dan THR yang diterima Tya lebih besar, Sintya dan Yadnoe pun langsung melabrak Suraz si mandor itu,

”Eh mas,,, kenapa uang gaji dan THR yang diterima Tya lebih besar dari saya! Mas ga menghargai saya tiap hari nyebokin monyet,” tanya Yadnoe emosi,,,

”Iya mas… Ini ga adil, padahal kerjaan saya tiap hari mandiin kingkong itu bukan pekerjaan mudah, ini ga adiiiilllll,,, sintya menambahkan,

Ketika mereka tengah berdebat,
Tiba2 Andie bos dari kebon binatang itu datang,,,

”Maaf ya Sintya,, Yadnoe,,, masalah gaji dan THR itu saya melihat dari cara kerja kalian, ucap Andie tegas!

”Loh,,, emangnya saya ga rajin pak,,, jawab sintya kesal,

”Iya pak,,, kami kan juga rajin sama seperti si tya!!! Yadnoe menambahkan,,,

”Kalian semua memang rajin, Τǎp¡ kalian harus memaklumi pekerjaan tya juga dong,,, jawab Andie tegas,,,

”Memangnya pekerjaan Tya itu sebenernya apa si pak, ƙơ bapa bisa pilih kasih sama kami, tanya Sintya keras,,,

Kemudian Andie pun mulai emosi mendengar ocehan Sintya dan Yadnoe,,,
Dengan keras pula Andie pun menjawab!!!

”Kalian íŋĭ sangat bodoh, memangnya kalian ġā tau kalau tiap hari pekerjaan tya yaitu NETEIN BUAYA😛

Selesai:

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

ANAK JALANAN


Ramadhan yang indah.
Mendekati hati lebaran! Jalananpun mulai ramai dipadati para pemudik dari berbagai kota.
Terlihat Andie tengah berlari membawa gitar kesayangannya mengejar dan menaiki setiap bus yang melintas dihadapannya,
Ketika masuk kedalam bus diapun berdiri tepat dihadapan seorang bapak2 yang memang tidak kebagian kursi untuk duduk.

”Hemmm… Ni bapak2 kayanya puasanya khusu bgt ya, ketahuan mulutnya bau orang yang lagi puasa, tapi tapi ko keteknya ikut2an bau juga siiii ihhhh…”
Ucapnya dalam hati,
Kemudian diapun kembali pada aksinya sebagai pengamen,

”Permisi bapak sopir dan bapak kondekturnya! Mas2 yg ganteng2 juga mba2 yang cantik2 tapi fitnah, numpang ngamen ya! Yang ga nyawer bacok hehehe,,,,” candanya agar penumpang terhibur,
Serentak penumpangpun tertawa mendengar kekonyolan yang dibuat oleh seorang anak laki2 yang hanya lulusan sekolah dasar itu,
Kemudian diapun melanjutkan dengan nyanyiannya!!!

Tidak berlangsung lama Andie pun turun dari bus tsb dan duduk ditempat yang biasa ia beristirahat

”Yuhuuuu… Pendapatanku lumayan hari ini, hemm… Uangnya buat beli apa ya hihihi,,, beli mas batangan aja kali ya hahaha,, kalau engga beli mas jawa aja x ya hahaha, mas jono maksudnya hahahhaha! ” Candanya menghibur diri,

Ketika ia tengah asik menghibur diri, tanpa disadarinya, seorang anak laki2 seusianya tengah duduk bersama tongkat setianya!
Laki2 itu adalah Suraz, seorang anak laki2 cacat yang hanya memiliki satu kaki, dan beberapa bulan ini menjadi sahabat setianya dijalanan,

”Suraz… Kapan kamu datang. Ko aku baru sadar si…” Tanya Andie heran.

Suraz terdiam, terlihat matanya berkaca seolah menyimpan banyak beban,,,

”Suraz kamu kenapa diam… Jawab dong Suraz… Aku ini kan sahabatmu, tanyanya lagi.

Pendapatanku berkurang hari ini Ndie,,, ibuku pasti marah besar lagi ini sama aku,,, jawab Suraz pelan,

Mendengar jawaban Suraz. Andie pun merasa iba kepada sahabat baiknya itu. Kemudian diapun mengeluarkan uang dari sakunya,,,

”Ambilah uang ini Suraz,,, berikan pada ibumu agar dia tidak memarahimu lagi,,,” ucap Andie pelan sambil menatap wajah Suraz yang memucat,

”Tidak Ndie,,, simpan saja uang itu, aku tidak mau merepotkan kamu Ndie” jawab suraz menolak,

Tidak apa2 suraz, aku ikhlas ko, aku tidak mau kamu dimarahi lagi sama ibumu Suraz, ucap Andie memaksa,

Sudahlah Ndie, sebentar lagi magrib, aku harus pulang, aku bisa tambah dimarahi ibu kalau aku terlambat pulang! Jawab Suraz sambil terburu2 mengayunkan tongkatnya untuk berjalan.

Andie pun hanya duduk terdiam melihat sahabatnya pergi tanpa menerima pemberianya,

Kamu anak yg baik Suraz. walaupun kamu hanya memiliki satu kaki, kamu tetap berusaha agar dapur ibumu tetap mengepul, hinaan dan cacian dari orang di sekitar tidak pernah membuatmu dendam, kamu hanya mendengar, diam, kemudian pergi, aku tau kamu sedih Suraz, tapi kamu selalu menyembunyikannya dari aku,
Ucap Andie dalam hati sambil mengusap air matanya,

Dari kejauhan dia melihat Suraz tengah berjalan terpincang2 dengan tongkat setianya, terlintas difikirannya untuk mengikuti Suraz dari belakang, karna selama berteman mereka belum pernah tau tempat tinggalnya masing2.
Berlahan Andie pun mengikuti Suraz dari belakang,
ketika adzan maghrib terdengar berkumandang dan waktunya berbuka puasa, terlihat Suraz memasuki rumah yang sangat sederhana, dan Andie pun terus mengikutinya,

Beberapa saat ketika Suraz memasuki rumah itu, tiba tiba,

”Plakkkk,,,,,prakkkkkk,,,” terdengar seperti suara orang tengah ditampar dan suara piring уαηg dibanting, kemudian Andie pun mendekati dan mengintai suara yang terdengar dari rumah itu,

”Dasar anak tololll, kerja apa kamu seharian hah! Sudah pulang terlambat, ga dapat uang, mendingan kamu pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembaliii, pergiiiii”

Suraz pun di dorong oleh ibunya keluar rumah sampai terjatuh!

”Maafkan Suraz bu, Suraz janji besok Suraz akan memberikan uang lebih banyak buat ibu!” Pinta pinta Suraz memelas pada ibunya sambil menangis agar tidak diusir!

”Alahhhhh,,, ibu ga butuh janji2, ibu sudah muak sama kamu Suraz, kamu itu hanya anak cacat yang tidak mampu membahagiakan orang tua!
Sekarang kamu pergiiiiiiiii,,,”

Sang ibupun melempar tongkatnya dan segera menutup dan mengunci pintunya,

Suraz pun tak kuasa membendung air matanya! Ibu yang sangat dicintainya tega membuangnya, layaknya sampah yang tak berguna,
Kemudian Suraz pun menggerakan tubuhnya untuk mengambil tongkat yang dilempar oleh ibunya,
Namun ketika tangannya hendak memegang tongkat, Andie penghampirinya dan memberikan tongkat itu pada Suraz, kemudian membantu Suraz untuk berdiri,

”Andie,,,, kenapa kamu ada disini Ndie, tanya Suraz heran,

”Maaf Suraz, aku mengikutimu dari belakang, aku hanya ingin tau keberadaanmu saja Suraz” jawab Andie singkat!

Sekarang kamu sudah tau keadaanku kan Ndie,,, mending kamu pergi dan jauhi aku,,, suatu saat kamu akan malu memliliki sahabat cacat seperti aku,” ucap Suraz tegas

”Tidak Suraz,,,,,aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku ga perduli orang orang menghinamu, kamu adalah sahabat terbaiku Suraz” jawab Andie dengan tangisannya,,,

Kemudian Suraz pun mendekati Andie dan memeluknya,,
Hingga pada akhirnya Andie mengajak Suraz ketempatnya,

***
Hari sudah larut malam, walau tempat. Tinggal Andie hanya rumah rumahan kardus saja, Suraz sangat menikmati tidur malamnya disana! Lain halnya dengan Andie, kejadian yang menimpa Suraz membuat dia susah untuk memejamkan mata, sesekali diapun menatap Suraz yang tengah tertidur, wajahnya lebam akibat tamparan orang tuanya! Berbeda sekali dengan orang tua Andie, ayah dan ibunya sangat menyayangi dan mencintainya!

Tak terasa, butiran beningpun keluar dari kelopak matanya, diapun keluar dari gubuk kardus itu, duduk didepan sambil menatap langit malam yang berhiaskan bulan dan bintang,

”Andie,,, kenapa kamu belom tidur Ndie, ngapain kamu malam2 duduk disitu” tanya Suraz yang terbangun dari tidurnya,

”Aku lagi asik memandang bintang Suraz, coba kamu lihat, bintangnya sangat indah kan Suraz! Jawab Andie tenang,

”Iya aku tau Ndie, diatas banyak bintang, tapi ini sudah larut malam Ndie, harusnya kamu tidur, jawab Suraz pelan,

”Kamu tau Suraz,,, walaupun bintang2 itu sangat jauh, dia mampu menerangi bumi ini, seperti ayah dan ibuku, walaupun mereka sudah tiada, mereka selalu ada dan mampu menerangiku seperti bintang2 itu, ucap Andie lirih,

Mendengar ucapan itu, Suraz pun mendekati Andie dan memeluknya,

”Jadi orang tuamu sudah ga ada Ndie, aku ga nyangka, dibalik ketegaranmu kamu masih bisa menyembunyikan kesedihanmu sama aku Ndie,” ucap Suraz sambil menangis,

”Sudahlah Suraz, semuanya udah berlalu, lebih baik kita tidur, sebentar lagi kita sahur,” jawab Andie sambil melepaskan pelukan dari Suraz,

***
Waktupun berjalan,
Terdengar kumandang adzan magrib dari sebuah masjid pada saat itu,
Andie dan Suraz pun berbuka puasa di gubuk kardusnya selepas mengamen, terlihat raut wajah Suraz sangat murung, mengingat esok hari adalah puasa terakhir dibulan ramadhan, dan lebaranpun tanpa ibunya!
Andie yang sudah bisa membaca fikiran sahabatnya itu kemudian mendekatinya,

”Suraz,,,, sebaiknya besok pagi kamu pulang, temui ibumu! Sejahat jahatnya seorang ibu kandung! Pada akhirnya dia pasti ada titik terang untuk menerimamu kembali Suraz, ucap Andie lantang,

Awalnya Suraz menolak, namun setelah beberapa kali dibujuk akhirnya diapun setuju dengan ucapan Andie sahabatnya itu,

***
Keesokan paginya Suraz pun pulang menemui sang ibu! Dengan harapan sang ibu akan menerima kehadirannya kembali dirumahnya, namun harapan tinggal harapan, kedatangan Suraz ternyata tidak mampu meluluhkan hati sang ibu untuk menerima kehadirannya, Suraz pun kembali diusir untuk yang kedua kalinya, apa mau dikata, Suraz pun harus bisa menerima kenyataan,

***
Disiang hari yang mendung,
Nampak Andie tengah duduk di halte bus tempat biasa ia mangkal, sambil bernyanyi nyanyi kecil menunggu setiap bus yang melintas di halte tsb!

Ketika tengah asiknya bernyanyi, tiba2 Suraz datang mendekatinya dengan membawa bingkisan yang ia beli dari toko,

”Suraz,,, ngapain kamu disini, kenapa kamu ga pulang menemui ibumu Suraz,” tanya Andie heran,

”Ibuku ga sayang aku Ndie, dia mengusirku lagi,” jawab Suraz sambil terisak tangis,

”Apaaaaa,,, kamu diusir lagi Suraz, tega sekali dia sama kamu Suraz,” jawab Andie emosi.

”Ndie,,, tolong berikan bingkisan ini pada ibu ya, tadi pagi aku ga sempat beli apa2 buat ibu, aku ga berani memberikannya sendiri Ndie, pinta Suraz dengan nada sedikit memaksa,

Karna ga tega, akhirnya Andie pun menuruti permintaan Suraz!

***
”Baiklah Suraz,,, aku akan memberikan bingkisan ini pada ibumu, sekarang kamu pulang kegubuk kardusku ya nanti aku nyusul, jawab Andie terburu2,
Surazpun hanya diam sambil menganggukan kepalanya,,

Setibanya Andie di rumah orang tua Suraz, diapun langsung mengetuk pintu rumah itu, dan keluarlah seorang ibu dari dalam rumah itu,

”Siapa kamu ,,,,” tanya ibu itu kasar

“Saya sahabatnya Suraz bu,,, jawab Andie pelan,

”Owhhh,,,, kamu sahabatnya Suraz,,, mau apa kamu datang kesini, Suraz si anak cacat itu sudah saya usir dari rumah ini , mendingan sekarang kamu pergi,,, saya tidak mau mendengar kabar apapun tentang sianak cacat itu” jawab siibu yang tambah sangar,

Mendengar ucapan kasar dari seorang ibu, Andie pun mulai emosi,

”Saya kecewa sama ibu, anak sebaik Suraz ibu campakan begitu saja, padahal Suraz sangat menyayangi ibunya, siang, malam, dimanapun dia selalu teringat akan ibunya,
dimana kasih sayang ibu sebagai orang tuanya, pernahkah ibu memikirkan dia hari ini makan apa, malam hari tidur dimana, saya sangat kecewa sama ibu” ucap Andie lantang

”Cukuppppppp,,, sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah datang lagi kerumah ini,” jawab siibu emosi,

”Saya akan pergi, Saya datang kesini hanya mengantarkan bingkisan ini dari Suraz untuk ibunya, permisi!!!” Jawab Andie sambil menaruh bingkisan di depan ibu itu kemudian beranjak pergi,

Baru saja Andie melangkahkan kaki dari rumah itu, tiba2 hujanpun turun dengan derasnya, kemudian diapun berlari untuk menemui Suraz di gubuk kardusnya,
Sementara siibu mulai membuka bingkisan yang diletakan Andie dihadapannya!
Matanya mulai berkaca ketika melihat isi bingkisan itu! Sebuah cincin dan gaun yang indah untuk ibunya dihari lebaran, saat itu siibu Baru sadar, anak yang dia anggap tak berguna ternyata sangat menyayanginya, walaupun makan seadanya Suraz masih bisa menyisihkan uang untuk membeli hadiah itu untuknya,,,

Sementara itu Andie pun baru sampai di gubuk kardusnya, dan hujanpun makin turun dengan derasnya, ketika dia masuk ke dalam gubuknya,
rasa takut bercampur sedihpun datang, Suraz sahabatnya tidak berada digubuk itu,

”Suraz,,,,,,, Surazzzz,,,,, kamu dimana Surazzzz,,,,,suraaaaazzzz” panggil Andie kebingungan,

Andie pun mencoba mencari sahabatnya itu dengan baju yang basah kuyup, dia mencarinya ke semua tongkrongan yang biasa mereka berdua singgah,

Suraaaaazzzz,,,, kamu dimana Suraaazzzzzz, panggilnya lagi cemas,,

Setelah beberapa saat akhirnya diapun duduk di sebuah taman dengan tubuh menggigil kedinginan,

Dari kejauhan, diapun melihat seorang laki2 tengah berdiri diatas jembatan penyebrangan bersama tongkat setianya,

”Suraz,,, apa itu Suraz” bisiknya pelan
Kemudian diapun berlari dan berhenti pas dibawah jembatan penyeberangan itu,

”Suraaaazzz,,,, sedang apa kamu disana Surazzz,,,,turunlah,,, aku mencarimu kemana manaaaa! Jerit Andie memanggi sahabatnya itu,,,

Mendengar jeritan Andie, Suraz justru menaiki pembatas jembatan untuk melompat,,,

”Suraaazzzz,,, jangan lakukan itu suraz, aku mohon, bunuh diri bukanlah jalan terbaikkkkk,,, jeritnya lagi ketakutan,

”Lebih baik aku mati Ndieeee,,,Tiada gunanya aku hidup,,,jangankan orang lain, ibuku saja tidak pernah menyayangi akuuu,,, jawab suraz dari ketinggian,

”Hentikan Suraz,,, jangan lakukan itu, aku sahabatmu Suraz, aku sayang sama kamu, sekali kamu melompat,,, akan ada dua mayat dibawah sana, yaitu kamu,,,, dan aku,,,, jawab Andie lagi dengan tak kuasa menahan tangis,

Suraz pun terdiam Beberapa saat, airmatanya seolah tak dapat dibendung,,, Dan Andie pun berlari menaiki jembatan penyebrangan itu dan berlahan mendekati sahabatnya,
Berlahan pula Surazpun mendekati Andie dan mereka berpelukan,

Maafkan aku Ndie, aku khilap, ucap Suraz pelan,

”Sudahlah Suraz,,, sekarang kita pulang ya,,, jawab Andie sambil melepaskan pelukannya,,,

Setibanya di gubuk kardus,
Hari mulai sore! Namun deras hujan belum kunjung reda, terlihat raut wajah Suraz sangat sedih, badannya panas serta mengigil,

”Ya tuhan kamu demam Suraz,,, kamu tunggu aku cari obat ya, aku segera kembali, ucap Andie terburu2,

Suraz terdiam. Dan Andie pun segera pergi membeli obat,

Ketika ia berjalan sepulangnya membeli obat, tanpa disengaja tiba2 dia berpapasan dengan orang tua Suraz,

”Nak,,, dimana Suraz sekarang nak, ibu ingin mengajaknya pulang, selama ini ibu sudah khilap nak, ucap ibu ίτυ menyesal,

Dengan senang hati Andie pun membawa ibu itu ke gubuk kardusnya,

Setibanya disana, Surazpun tengah tertidur dengan tubuh уαηg мăŝĭĥ menggigil,

”Surazz,,,, maafkan ibu nak,,, tangis sang ibu sambil memeluk anaknya,

Kemudian Suraz pun mulai membuka matanya,

”Ibu,,,,,,” ucap suraz lirih!

”Maafkan ibumu ini nak, selama ini ibu sudah menyia nyiakan kamu, sekarang kita pulang ya nak, ibu kangen sama kamu,,, ucap sang ibu memohon,

Berlahan Pandangan Surazpun tertuju kepada Andie Sahabatnya, dan Andie pun menatapnya sambil sesekali mengusap air matanya,

”Pulanglah Suraz,,, besok sudah lebaran, aku ingin melihatmu tersenyum bahagia bersama ibumu,,, ucap Andie terbata2,,,

***
Akhirnya Suraz dan ibunyapun berpamitan pada Andie untuk pulang dan lebaran dirumah!

Setelah Suraz dan ibunya pulang, tinggalah Andie duduk sendiri, teringat pada kedua orang tuanya yang telah lama pergi meninggalkannya, airmatanya mulai tak terbendung! Tangisanpun tak tertahankan, lebaranpun tanpa kedua orang tua,
Namun tiba2 ada sentuhan tangan hangat yang memegang erat tangan kanannya,

”Nak,,,, ikutlah bersama ibu,,, tinggalah dirumah ibu, ibu akan menganggapmu seperti anak ibu sendiri,

Andie pun menatap wajah ibu itu,,,
Ternyata ibunya Suraz!!! Surazpun tersenyum bahagia dihadapannya!,
Dan akhirnya Andie pun tersenyum,
Kemudian mereka bertiga berpelukan seolah baru menemukan keluarganya yang telah lama hilang,,,

Selesai:

NB:
Untuk semua sahabatku
Minal aidzin walfaidzin ya,
Mohon мддf lahir dan batin,
Мддf Ĵчğå вυӓт уαηg đī tag, ĸāļăŭ memang ġā suka didelete áĵå, karna tanda disiini bukan bermaksud mengemis jempol, terimakasih,

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KISAH AYAH TIRI


Ayah meninggal karena kanker paru-paru
stadium akhir saat saya berusia 6 tahun.
Beliau juga meninggalkan ibu dan adik saya
yang masih berusia dua tahun. Sejak saat itu
kehidupan kami sehari-hari sangat sulit.

Setiap hari ibu bekerja membanting tulang di
sawah hanya cukup menyelesaikan masalah
perut saja.
Saat saya berusia 9 tahun, ibu menikah
dengan seorang pria dan menyuruh kami
memanggilnya ayah. Pria tersebut adalah
ayah tiri saya. Untuk selanjutnya dia yang
menopang keluarga kami.
Dalam ingatan masa kecil, ayah tiri saya
seorang yang sangat rajin, dia juga sangat
menyayangi ibu.Pekerjaan apa saja dalam
keluarga yang membutuhkan tenaganya
akan dia lakukan, selamanya tidak
membiarkan ibu untuk campur tangan.
Sehari-hari ayah tiri adalah orang yang
pendiam. Usianya kira-kira empat puluhan
lebih, berperawakan tinggi dan kurus, tetapi
bersemangat. Dahinya hitam, memiliki
sepasang tangan besar yang kasar, di
wajahnya yang kecoklatan terdapat sepasang
mata kecil yang cekung.
Ayah tiri saya mempunyai suatu kebiasaan,
tidak peduli pergi kemana pun, diatas
pinggangnya selalu terselip sebatang pipa
rokok antik berwarna coklat kehitaman.
Setiap ada waktu senggang dia selalu
menghisap rokok menggunakan pipa itu.
Sejak dulu saya tidak suka dengan perokok,
oleh karenanya saya juluki dia dengan
sebutan “setan perokok”.
Dalam ingatan saya, ayah tiri selalu tenang
dalam menghadapi segala persoalan, tidak
peduli besar kecilnya permasalahan selalu
dihadapinya dengan santai. Namun hanya
karena sebatang pipa rokok, ayah tiri telah
memberikan saya sebuah tamparan yang
sangat keras.
Teringat waktu itu ayah tiri baru saja menjadi
anggota keluarga kurang lebih setengah
tahun, suatu hari saya mencuri pipa rokoknya
untuk saya sembunyikan. Hasilnya, ayah tiri
selama beberapa hari merasa gelisah dan tak
tenang, sepasang matanya merah laksana
berdarah. Akhirnya karena saya diinterogasi
dengan keras oleh ibu, dengan berat hati
saya menyerahkan pipa rokok itu.
Ketika saya menyerahkan pipa itu kehadapan
ayah tiri, dia menerimanya dengan tangan
gemetaran dan tak lupa dia memberikan saya
satu tamparan keras, kedua matanya
berlinangan air mata.
Saya sangat ketakutan dan menangis, ibu
menghampiri dan memeluk kepala saya lalu
berkata, “Lain kali jangan pernah menyentuh
pipa rokok itu, mengertikah kamu? Pipa itu
adalah nyawanya!”
Setelah kejadian itu, pipa rokok itu menjadi
penuh misteri bagiku. Saya berpikir, “Ada apa
dengan pipa itu sehingga membuat ayah tiri
bisa meneteskan air mata? Pasti ada sebuah
kisah tentangnya.”
Mungkin tamparan itu telah menyebabkan
dendam terhadap ayah tiri, tidak peduli
bagaimanapun jerih payah pengorbanannya,
saya tidak pernah menjadi terharu. Sejak usia
belia, saya selalu berpendapat ayah tiri sama
jahatnya seperti ibu tiri dalam dongeng Puteri
Salju. Sikap saya terhadap ayah tiri sangat
dingin, acuh tidak acuh, lebih-lebih jangan
harap menyuruh saya memanggil dia “ayah”.
Tapi ada sebuah peristiwa yang membuat
saya mulai ada sedikit kesan baik terhadap
ayah tiri.
Suatu hari ketika saya baru pulang dari
sekolah, begitu masuk rumah segera melihat
kedua tangan ibu memegangi perut sambil
berteriak kesakitan. Ibu bergulung-gulung di
ranjang, butiran besar keringat dingin
bercucuran di wajahnya yang pucat.
Celaka! Penyakit maag ibu kambuh lagi! Saya
dan adik menangis mencari ayah tiri yang
bekerja disawah. Mendengar penuturan kami,
dia segera membuang cangkul ditangannya,
sandal pun tak sempat dia pakai. Sesampai
dirumah tanpa berkata apapun segera
mengendong ibu kerumah sakit seperti orang
sedang kesurupan. Ketika ibu dan ayah tiri
kembali kerumah, hari sudah larut malam,
ibu kelelahan tertidur pulas diatas pundak
ayah tiri.
Melihat kami berdua, ayah tiri dengan nafas
tersengal-sengal, tertawa dan berkata kepada
kami, “Beres, sudah tidak ada masalah. Kalian
pergilah tidur, besok masih harus
bersekolah!” Saya melihat butiran keringat
sebesar kacang berjatuhan bagai butiran
mutiara yang terburai, jatuh pada sepasang
kaki besarnya yang penuh tanah.
Kesengsaraan yang saya alami dimasa kecil,
membuat saya memahami penderitaan
seorang petani. Saya menumpahkan segala
harapan saya pada ujian masuk ke
Universitas. Tetapi pertama kali mengikuti
ujian, saya mengalami kegagalan.
“Bu, saya sangat ingin mengulang satu tahun
lagi,” pinta saya pada ibu.
“Nak, kamu tahu sendiri keadaan ekonomi
kita, adikmu juga masih sekolah di SMA,
kesehatan ibu juga tidak baik, pengeluaran
dalam keluarga semua menggantungkan
ayahmu. Lihatlah sendiri ada berapa gelintir
orang di desa ini yang mengenyam
pendidikan SMA? Ibu berpendapat kamu
pulang kerumah untuk membantu ayahmu!”
Tetapi saya sudah menetapkan niat, bersikap
teguh tidak mau mengalah. Saat itu ayah tiri
tidak mengatakan apa-apa, dia duduk
dihalaman luar menghisap rokok dengan pipa
kesayangannya. Saya tak tahu didalam
benaknya sedang memikirkan apa.
Keesokan harinya ibu berkata kepada saya,
“Ayah setuju kamu menuntut ilmu lagi
selama satu tahun, giatlah belajar!”
Ayah tiri menjadi orang yang pertama kali
menerima dan membaca surat penerimaan
mahasiswa saya. “Bu, anakmu diterima
diperguruan tinggi!” teriaknya.
Saya dan ibu berlari keluar dari dapur. Ibu
melihat dan membolak-balik surat panggilan
itu meski satu huruf pun dia tidak
mengenalinya. Tetapi kegembiraan itu tersirat
dari tingkah lakunya. Malam itu tak tahu
mengapa ayah tiri sangat gembira hingga
bicaranya juga banyak.
Saya mengambil teko kecil уαηg berisi kopi dimeja makan
dan dengan sikap sangat hormat
menuangkan kopi itu satu gelas penuh untuk
ayah tiri. Hitung-hitung sebagai rasa terima
kasih atas jerih payahnya selama satu tahun!
Dengan takjub ayah tiri memandang kearah
saya, wajahnya penuh dengan kegembiraan.
Sekali mengangkat gelas dan meneguk habis,
mulutnya tak henti-hentinya berkata, “Patut,
sangat patut sekali!”
Tetapi untuk selanjutnya biaya uang sekolah
perguruan tinggi yang sangat mahal itu
membuat keluarga cemas. Ibu mengeluarkan
segenap uang tabungannya serta menjual
dan meminjam kesana kemari, tetap masih saja kurang .
Bagaimana ini? Kuliah akan dimulai satu hari
lagi. Saat makan malam, hidangan diatas
meja tidak ada seorang pun yang
menyentuhnya. Ibu menghela napas panjang
sedangkan ayah tiri berada disampingnya
sambil merokok, sibuk memperbaiki alat tani
ditangannya, saya tidak tahu mengapa
hatinya begitu tenang? Suara napas ibu
membuat hati saya hancur luluh lantak.
“Sudahlah saya tidak mau kuliah! Apa kalian
puas?” Saya berdiri dengan gusar, dan
bergegas masuk kamar, merebahkan diri di
ranjang lalu mulai menangis…….. Saat itu
saya merasakan ada satu tangan besar yang
keras menepuk-nepuk pundak saya, “Sudah
dewasa masih menangis, besok ayah pergi
berusaha, kamu pasti bisa kuliah.”
Malam itu ayah membawa pipa rokoknya,
menghisap seorang diri dihalaman rumah
hingga larut malam, percikan api rokok yang
sekejap terang dan gelap menyinari wajahnya
yang banyak mengalami pahit getir
kehidupan. Dia memincingkan sepasang
mata, raut wajahnya menyembunyikan
perasaan dan sangat berat. Kepulan asap
rokok dengan ringan menyebar didepan
matanya, mengaburkan pandangan, tiada
seorang pun tahu apa yang sedang dia
pikirkan, tetapi yang pasti dalam hatinya
tidak tenang.
Keesokan hari ibu memberitahu saya bahwa
ayah tiri pergi ke kabupaten. “Pergi untuk
apa?” Percikan bunga api dari harapan hati
saya tersirat keluar.
“Dia bilang pergi kekota mencari teman
menanyakan apakah bisa pinjami uang.”
“Apa usaha temannya?” Ibu menggelengkan
kepala, mulutnya bergumam, “Tidak tahu.”
Hari itu saya menunggu didepan desa,
memandang kearah jalan kecil yang berkelok-
kelok. Untuk kali pertama perasaan hati saya
ada semacam dorongan ingin bertemu ayah
tiri, dan untuk kali pertama saya merasakan
berharganya sosok ayah tiri dalam jiwa saya,
masa depan saya tergantung pada dirinya.
Hingga malam saya baru melihat ayah tiri
pulang. Saat saya melihat wajahnya yang
penuh senyuman, hati saya yang selalu
cemas, akhirnya bisa merasa lega. Ibu
bergegas mengambil seember air hangat
untuk merendam kakinya. “Celupkanlah
kakimu, berjalan pulang pergi 40 kilometer
perjalanan cukup membuat lelah.” Dengan
lembut ibu berkata kepada ayah tiri.
Saya mengamati wajah ayah tiri dengan
saksama, dan menemukan bahwa dia bukan
lagi seorang pria yang masih kuat dan kekar
seperti dulu. Wajahnya pucat pasi dan bibir
membiru, dahinya hitam penuh dengan
kerutan, rambut pendek serta tangan kurus
bagaikan kayu bakar, penuh dengan tonjolan
urat hijau.
Memang benar, ayah tiri sudah tua. Dengan
hati-hati ibu melepaskan sepasang sepatunya
yang hampir rusak. Dibawah sinar temaram
lampu neon, terlihat sebuah benjolan darah
besar yang sudah membiru masuk dalam
pandangan saya, tak tertahankan hati saya
merasa bersedih, air mata saya diam-diam
menetes keluar……..
Keesokan hari ketika saya berangkat kuliah,
ayah tiri mengatakan dia tidak enak badan,
diluar dugaan dia tidak bisa bangun dari
tempat tidur. Dalam perjalanan mengantar
saya kuliah ibu berkata, “Nak, kamu sudah
dewasa, diluar sana semuanya tergantung
pada diri sendiri. Sebenarnya ayah tirimu itu
sangat menyayangimu, dia sangat
mengharapkanmu memanggilnya ayah!
Tetapi kamu……”
Suara ibu sesenggukan, saya menggigit bibir
dengan suara lirih berkata, “Lain kali saja,
Bu!”
Setiap kali membayar uang kuliah, ayah tiri
pasti pergi ke kota untuk meminjam uang.
Ketika liburanpun,
saya jarang berbicara dengan ayah tiri
dirumah, dia sendiri juga jarang menanyakan
keadaan saya. Tetapi kegembiraan ayah tiri
bisa dirasakan setiap orang.
Setiap kali kembali ketempat kuliah, ayah tiri
pasti akan mengantar sampai ketempat yang
cukup jauh. Sepanjang perjalanan dia
kebanyakan hanya menghisap pipa rokoknya.
Semua kata-kata yang ingin saya utarakan
kepadanya tidak tahu harus dimulai dari
mana.
Sebenarnya dalam hati kecil sejak dulu sudah
menerimanya seperti ayah kandung, cinta
kasih kadang kala sangat sulit untuk
diutarakan! Dengan demikian saya selalu
tidak bisa merealisasikan janji saya terhadap
ibu.
Pada liburan tahun baru, rumah terkesan
ramai sekali. Saat itu saya sudah kuliah di
semester-6. Adik meminta saya bercerita
tentang hal-hal menarik di kota, ayah tiri
duduk dibelakang ibu, sibuk mengeluarkan
abu tembakau setelah itu memasukkan
tembakau kedalam pipa, wajahnya penuh
dengan senyum kebahagiaan. Saya bercerita
tentang keadaan kota, adik membelalakkan
mata dengan penuh rasa ingin tahu.
“Ah, teman sekelas kakak kebanyakan sudah
mempunyai ponsel dan laptop, sedangkan
kakak sebuah arloji pun tidak punya…….”
Pada akhirnya saya mengeluh dengan nada
bergumam. Saat itu saya melihat wajah ayah
tiri sedikit tegang, segera ada perasaan
menyesal telah mengucapkan perkataan itu.
Saat liburan usai saya harus meninggalkan
rumah kembali kuliah. Seperti biasa ayah tiri
mengantar kepergian saya. Sepanjang
perjalanan beberapa kali ayah tiri memanggil
saya, tetapi ketika saya menanggapi, dia
membatalkan berbicara, sepertinya
mempunyai beban pikiran yang sangat berat.
Saya sangat berharap ayah tiri bisa memulai
topik pembicaraan, agar bisa berkomunikasi
baik dengannya, namun saya selalu kecewa.
Ketika berpisah, ayah tiri berkata dengan
kaku, “Saya tidak mempunyai kepandaian
apa-apa, tidak bisa membuat hidup kalian
bahagia, saya sangat menyesalinya. Jika
engkau sukses kelak, harus berbakti pada
ibumu, biarkan dia bisa menikmati hari tua
dengan bahagia…” Saya menerima koper
baju yang disodorkannya.
Tiba-tiba saya melihat sepasang matanya
berkaca-kaca. Hati saya menjadi trenyuh,
mendadak merasakan ada semacam
dorongan hati yang ingin memanggilnya
“Ayah”, tetapi kata yang telah mengendap
lama ini akan terlontar dari mulut, mendadak
tertelan kembali.
Ketika saya telah berjalan jauh, saya lihat
ayah tiri masih berdiri ditempat itu sama
sekali tak bergerak, bagaikan patung. Dalam
hati saya berjanji: ketika pulang nanti, saya
pasti akan memanggilnya “Ayah”. Namun
kesempatan itu tak pernah saya dapatkan
lagi. Saya tak mengira perpisahan kali ini
untuk selamanya.
Dua bulan setelah itu saya mendapat kabar
bahwa ayah tiri meninggal dunia. Bagaikan
halilintar di siang bolong, benak saya menjadi
kosong, serasa dunia ini sudah tiada lagi.
Saya pulang dengan perasaan linglung, yang
menyambut saya dirumah adalah pipa rokok
berwarna coklat kehitaman yang tergantung
di tembok.
“Satu-satunya hal yang paling disesali ayah
adalah tidak seharusnya menamparmu,
setiap kali mengantarmu kembali ke kampus,
dia sangat ingin meminta maaf, tetapi
ucapan itu selalu tak bisa keluar dari
mulutnya. Sebenarnya masalah itu tidak bisa
menyalahkan dirinya, kamu tidak tahu betapa
sengsara hatinya, pipa itu adalah kesedihan
seumur hidupnya!” Dengan hati pedih ibu
bercerita.
Melihat benda peninggalan itu teringat
pemiliknya, dengan hati-hati saya ambil pipa
yang tergantung di tembok itu, pandangan
mata saya kabur karena air mata, merasakan
kesedihan yang menusuk hati. Ibu juga
tergerak hatinya, dia lalu bercerita tentang
misteri pipa rokok itu…
Tiga puluh tahun lalu, ayah tiri hidup saling
bergantung dengan ayahnya. Ibu dengan
ayah tiri adalah teman sepermainan sejak
kanak-kanak. Setelah mereka tumbuh
dewasa, mereka sudah tak terpisahkan lagi.
Tetapi jalinan kasih mereka mendapatkan
tentangan keras kakek, sebab keluarga ayah
tiri terlalu miskin.
Karena ibu dan ayah tiri dengan tegas
mempertahankan hubungan mereka, kakek
terpaksa mengajukan sejumlah besar mas
kawin kepada keluarga ayah tiri baru mau
merestui pertunangan mereka.
Demi anak satu-satunya, ayah dari ayah tiri
itu pergi bekerja di perusahaan
penambangan batu bara. Malang tak dapat
ditolak, terjadi kecelakaan di tambang itu.
Dinding tambang runtuh dan menimbun
sang ayah untuk selamanya. Barang
peninggalan satu-satunya hanyalah pipa
rokok kesayangannya semasa hidup.
Ayah tiri sangat sedih, seumur hidup orang
yang paling dia hormati dan sayangi adalah
ayahnya. Kemudian ayah tiri menyalahkan
dirinya dan merasakan penyesalan yang
mendalam hingga tak ingin hidup lagi.
Keesokan harinya dia diam-diam
meninggalkan rumah dengan membawa pipa
rokok itu, tak seorang pun tahu kemana
perginya…
Dua tahun kemudian ayah tiri kembali lagi
kekampung halamannya, tetapi ibu satu
tahun sebelum ayah tiri kembali dipaksa
untuk menikah dengan ayah kandung saya.
Untuk selanjutnya ayah tiri tidak menikah,
yang menemani hidupnya adalah sebatang
pipa rokok yang tidak pernah lepas darinya.
Setelah ayah kandung saya meninggal, ayah
tiri memberanikan diri menanggung segala
tanggung jawab untuk menjaga ibu, saya dan
adik. Sejak awal dia menolak mempunyai
anak sendiri, dia berkata kami ini adalah anak
kandungnya.
Selesai mendengarkan penuturan ibu, tak
terasa wajah saya penuh dengan air mata.
Sungguh tak menduga jika pipa rokok itu
bukan hanya memiliki kisah berliku perjalanan
cinta mereka, namun juga mengandung
ingatan yang amat berat bagi seumur hidup
ayah tiri!
“Ayah meninggal dunia karena pendarahan
otak, sebelumnya dia sudah tidak bisa
berbicara, hanya memandang Ibu dengan
tangannya menunjuk ke arah kotak kayu. Ibu
mengerti maksudnya hendak memberikan
kotak kayu tersebut kepadamu. Didalam
kotak itu terdapat beberapa lembar surat
hutang, mungkin dia bermaksud
menyuruhmu membayarkan hutangnya.
Seumur hidupnya, dia tak ingin berhutang
pada orang lain….”
Dengan sesenggukan saya menerima kotak
kayu itu dan membukanya dengan perlahan.
Ada delapan lembar kertas didalamnya. Saya
membacanya dan terkejut bukan main,
tubuh menjadi lemas terkulai diatas ranjang.
Ibu saya buta huruf, kertas-kertas yang ada
dalam kotak itu bukan surat hutang seperti
yang dikatakannya, melainkan tanda terima
jual darah! Ayah tiri telah menjual darahnya!
Kepala saya terasa pusing dan tangan saya
lemas. Kotak kayu itu terjatuh, dari dalamnya
menggelinding keluar sebuah alroji baru…
“Ayah! Ayah..” Berlutut didepan kuburan
ayah tiri dengan air mata bercucuran, saya
hanya bisa menepuk-nepuk onggokan tanah
kuning yang ada dihadapan saya. Tetapi biar
bagaimanapun saya berteriak-teriak, tetap
tak akan memanggil kembali bayangannya.
Ketika saya pergi meninggalkan rumah, saya
membawa pipa rokok coklat kehitaman itu,
saya akan mendampingi pipa ini untuk
seumur hidup saya, mengenang ayah tiri
untuk selamanya.

Selesai:

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENGORBANAN SEORANG SAHABAT


 

Ditulis oleh: Eky Andie Firmansyah

Siang yang cerah,
Kabutpun terlihat indah menghiasi pegunungan di desa itu!
Panoramanya Menambahkan keindahan alam disuasana Ramadhan yang penuh berkah!

Terlihat Andie tengah duduk di depan sekolah dengan baju lusuhnya!
Sorot matanya yang sayu seakan menyimpan beribu mimpi.

Dorrrrrr…. Kakaaaaa!!!!!!
Seorang gadis kecil yang baru duduk di kelas 3 sekolah dasar tiba2 datang dan membuyarkan Andie dari dunia khayalannya,

Nabila, ko kamu ngagetin kaka si de! Untung saja kaka ga jantungan, bentak Andie sambil mencubit kecil pipi Nabila adik kesayangannya itu,
Usia Nabila terpaut 10 thn dengan kakanya! Nabila 8 tahun sedangkan Andie 18 thn, namun mereka sangat akrab,

Pulang yu ka,,, pinta Nabila pada Andie yang memang dari tadi menunggunya pulang dari sekolah!
Walaupun jarak rumah kesekolah hanya beberapa meter saja, Andie selalu menjemputnya karna tidak mau Adiknya keluyuran dan salah bergaul!

Setibanya dirumah! Seperti biasa Nabila pun sudah terbiasa mandiri, merapihkan rumah dan mencuci pakaian sekolahnya!!!

Nabila,,,, kaka pergi dulu ya de, kaka mau cari rumput dulu buat kambing2 kita, Nabila dirumah saja ya, ini kan puasa ramadhan kita yang pertama, nanti sepulang cari rumput kaka bawa makanan buat buka puasa kita nanti!
Sapa Andie pada adiknya,

Iya hati2 ka!!! Jawab Nabila sambil mengumpulkan baju baju kotor yang akan dicucinya!
Dan Andie pun kemudian pergi mencari rumput untuk kambing2 milik tetangganya yang ia rawat!

*****
Tak terasa, hari pun mulai sore, Andie pun kemudian bergegas pulang!
Namun ketika ia sampai didepan rumahnya! Tiba2 langkahnyapun terhenti ketika melihat adiknya sedang duduk termenung di bale2 samping rumahnya!
Bale2 itu Mengingatkannya akan kejadian pahit di bulan Ramadhan beberapa tahun silam!
Saat itu diapun tengah duduk di bale2 itu sambil mengasuh Nabila kecil yang tengah belajar untuk berjalan, menunggu sang ayah mengantarkan sang ibu pergi kepasar untuk membeli makanan pembuka puasa,
Namun beberapa saat kemudian yang datang bukan ayah atau ibu, melainkan petugas dari rumah sakit, memberitahukan bahwa ayah dan ibunya telah meninggal dunia karna mengalami kecelakaan yang cukup parah!

Sejak saat itulah Andie berperan menggantikan sosok seorang ayah dan ibu buat Nabila, bekerja apapun tanpa mengenal lelah!
Bahkan ia tak mempedulika Penyakit yang ia derita, asalkan adiknya bisa sekolah dan mempunyai masa depan,

Bilaa,,,, knapa kamu duduk disini dee! Sapaan manja Andie pelan,,,
Nabila hanya diam sambil menundukan kepalanya agar kakanya tidak mengetahui kalau ia sedang menangis,

Kamu kenapa Bila,,, Bila lapar ya!!!
Bila buka aja puasanya ya de! Bila kan masih kecil, bujuk Andie,

Ka,,,, kaka sakit apa,,, kenapa kaka ga pernah cerita sama Bila ka,,, tanya Nabila penasaran,

Maksud kamu apa si de,, kaka ga ngerti maksudnya, kaka ga kenapa2 ko, jawab andie bingung,

Kemudian Nabila pun mengambil bungkusan obat dari sakunya!!!

Bila menemukan obat obatan ini dari saku celana kaka! Kaka sakit apa ka, tanyanya lagi,

Andie pun merasa kaget melihat adiknya tau tentang obat itu!

Owh itu,,, obat2an itu kaka temukan dijalan de! Kalau tidak kaka ambil, kaka khawatir nanti ada anak kecil yang mengambil dan memankannya gimana! Ya sudah kaka ambil! jawabnya singkat!

Kemudian Nabila pun memeluk Andie dan mulai ikut tersenyum walaupun kurang yakin kakanya baik2 saja!

Jangan tinggalkan Nabila ka, Bila ga punya siapa2 lagi selain kaka! Bisik Nabila sambil memeluk kakanya dengan erat,

Mata andie pun mulai berkaca mendengar kata2 adiknya yang tak ingin kehilangan dirinya,
Kemudian Andie pun berlahan melepaskan pelukan dr adiknya,

Kaka ga mungkin ninggalin kamu Bila,,, kaka sayang sama kamu,,, mending sekarang kita masuk kedalam ya! Sebentar lagi maghrib waktunya kita buka puasa, bujuk Andie sambil mengusap air mata Nabila!!!

*****
Waktupun terus berjalan!
Ramadhan pun masih terasa hangat,
Namun sepandai pandainyanya Andie menyembunyikan sesuatu yang dideritanya! Pada akhirnya Nabila pun mengerti!
Setiap menjelang sahur, Nabila sering mendengar kakanya mengerang kesakitan di tempat tidurnya, dan dalam waktu yang singkat, tubuh kakanyapun semakin kurus, bahkan untuk bicarapun terbata bata!

*****
Sebagai adik satu satunya!
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Nabila selain merawat, menjaga sang kaka agar bisa sehat seperti sedia kala,

Hingga pada suatu hari menjelang maghrib, Di mana anak2 Seusia Nabila tengah ikut menyiapkan makanan untuk berbuka puasa bersama sanak saudara,
Nabila Gadis kecil itu justru menunggu maghrib sambil duduk termenung dibale2 samping rumahnya, memikirkan penyakit kakanya yang tak kunjung sembuh!
Sesekali Nabila nenoleh ke seberang jalan depan rumahnya, dia melihat banyak pemudik yang akan pulang kerumahnya masing2, berkumpul bersama keluarga tercinta, karna lebaran tinggal beberapa hari lagi!

Tak terasa! Nabilapun meneteskan air mata! Tak ada yang ia tunggu! Jangankan saudara yang datang, tetanggapun seolah melihatpun enggan,

Terdengar kumandang adzan maghrib, Nabilapun segera bergegas masuk rumah karna waktu berbuka puasa telah tiba,

Assalamualaikuuum,,,!!!

Nabila yang baru saja mendorong daun pintu tiba2 menghentikan langkahnya ketika mendengar dari arah belakangnya ada seseorang yang mengucapkan salam,
Nabilapun menolehkan wajahnya kebelakang!
Terlihat sosok pemuda yang usianya sama seperti kakanya!
Nabilapun mencoba mengingat ingat wajah laki2 itu!

Waalaikum salaaam,,,
Ka yadnoe!!!!! Ini ka yadnoe kan!!!
Sapa nabila yang lupa2 ingat akan wajah laki2 itu!

Iya Nabila, ini kaka, ka Yadnoe!!!,,,
Jawab Yadnoe sambil tersenyum!

Yadnoe adalah sahabat kecil Andie, kisah hidupnyapun tak jauh beda dengan Andie! Sama2 yatim piatu! Hanya saja Yadnoe lebih beruntung, semenjak kedua orang tuanya meninggal, yadnoe di rawat oleh seseorang dan membawanya tinggal di pondok pesantren! Setahun sekali Yadnoepun berkunjung kerumah Andie untuk melepas kerinduannya akan sahabat kecilnya itu!

kaka masuk dulu ya ka,,, kita buka puasa bersama didalam!!! Ajak Nabila sambil membuka daun pintu,
Dan akhirnya Nabila dan Yadnoepun masuk,,,

Ka Andie nya mana bila! Ko dari tadi ga kelihatan, tanya yadnoe sambil menutup pintu,

Ka Andie ada dikamar ka, dia sedang sakit keras,,, jawab Nabila pelan,

Tanpa banyak tanya, Yadnoe pun langsung masuk kekamar sahabatnya itu! Sementara Nabila beranjak ke dapur,

Andie,,,!!! Kamu kenapa ndie! Kamu sakit apa, tanya Yadnoe penasaran,

Andie pun terdiam, Berlahan diapun membuka matanya! Bibirnya tersenyum, walau tak mampu bicara! Yadnoe pun bisa membaca kalau Andie sangat bahagia atas kedatangannya,,,

Kaa,,, ini airnya diminum dulu ka, dari tadi kaka belum membatalkan puasa kaka, sapa Nabila pada Yadnoe,

Kemudian Yadnoe pun meminum air putih yang diberikan Nabila sambil melihat sepiring nasi putih, sambal dan daun singkong rebus sebagai lauk yang dibawanya,

Yadnoe pun merasa sangat sedih saat itu, melihat seorang gadis kecil berbuka puasa hanya makan alakadarnya!!!

Nabila,,, kasihan sekali kamu de,,, andai saja orang tuamu masih ada, mereka pasti akan bangga memiliki putri setabah kamu, bisik Yadnoe dalam hati!

Tidak lama kemudian Yadnoe pun beranjak kemusola dekat rumah untuk melaksanakan solat magrib!

Namun beberapa saat kemudian, sepulangnya Yadnoe dari musola! Tiba2 dia mendengar tangisan Nabila yang berasal dari kamar Andie!
Dengan tergesa gesa Yadnoe pun langsung memasuki kamar itu,

Andie,,, Andie bangun ndie,,, Nabila ka Andie kenapa Nabila, tanya Yadnoe cemas!
Nabilapun tak mampu berkata apa2 setelah melihat kakanya mengerang kesakitan hingga akhirnya pingsan,

Saking cemasnya, akhirnya Yadnoe dan Nabilapun segera membawa Andie ke puskesmas terdekat,
Namun malangnya, puskesmas tsb tidak sanggup menangani penyakit yang diderita Andie, apa boleh buat Andie pun dibawa kerumah sakit!
Untuk segera diberikan pertolongan!

oooooo000ooooooo
Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam, Andie dan Nabila masih duduk diruang tunggu dengan perasaan cemas menantikan kabar dari dokter,

Beberapa saat kemudian dokterpun keluar dari kamar dimana Andie ditangani!
Yadnoe pun segera menghampiri dokter tsb!

Dokter bagaimana keadaan Sahabat saya dokter!!!, tanya Yadnoe cemas,,,

Tolong ikut keruangan saya ya! Kita jelaskan didalam!! Ajak dokter pelan!
Kemudian Yadnoe pun ikut bersama dokter tsb, sementara Nabila masih duduk di ruang tunggu,

Setelah berada diruangan dokter tsb! Yadnoe pun begitu terkejut dan shok,
Bagaimana tidak! Dokter menjelaskan bahwa Andie membutuhkan donor organ tubuh dengan biaya yang sangat tinggi, dan jika hal tsb tidak dilakukan, dokter memvonis Andie hanya bertahan hidup selama 3 hari saja!!!

Apa dokter!!! Dokter bohong kan dokter!!! Sahabat saya baik baik saja kan dokter,,, ucap Yadnoe tak kuasa menahan tangis!!!
dokterpun hanya terdiam.
Kemudian Yadnoepun berlahan melangkahkan kaki menuju pintu untuk keluar!
Namun kesedihannya bertambah ketika ia membuka pintu ruangan itu,
Dia melihat Nabila, gadis kecil yang menanti kesembuhan kakanya,,,

Ya allah,,, apa yang harus lakukan,,, ucapnya dalam hati

Kemudian Yadnoe pun kembali mendekati dokter yang masih duduk dikursinya,

Dokter,,, ambilah organ tubuh saya dokter, saya mohon, saya mohon selamatkan nyawa sahabat saya dokter, pinta Yadnoe memelas!!!

Dengan penuh pertimbangan, akhirnya dokterpun menyetujui permintaan Yadnoe untuk mendonorkan organ tubuhnya dengan syarat harus menunggu Andie siuman untuk dipintai persetujuan!

setelah selesai, Yadnoepun segera keluar dari ruangan tsb dan langsung menghampiri Nabila yang sedari tadi menunggunya,,,

Ka,,, bagaimana keadaan ka Andie ka!!! Tanya Nabila khawatir

Ka Andie baik2 aja bila,,, jawab Yadnoe yang tidak mau melihat gadis kecil itu sedih!
Namun dari raut wajah Yadnoe, Nabilapun bisa membaca kalau jawabannya tidak seperti yang ia katakan,
Kemudian Nabilapun mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Yadnoe,

Jualah cincin ini ka,,, dulu ka Andie memberikannya pada bila, dia bilang suatu saat bila akan membutuhkannya, tapi saat ini ka Andie lebih membutuhkannya ka,, ucap nabila dengan deraian air matanya,

Yadnoe pun tak kuasa menahan air matanya, kemudian ia pun memeluk Nabila,

Nabila yang sabar ya sayang, ka Andie akan baik2 saja de,,, ucapnya menghibur Nabila,
kemudian Yadnoe mengajak Nabila masuk keruangan di mana Andie di rawat, karna dokterpun sudah mengizinkannya,

Ka andie,,, bangun kaa,, bila kangen sama kakaa, tangis Nabila sambil memeluk kakanya ketika berada diruang rawat Andie!

Sementara Yadnoe hanya terdiam melihat gadis kecil itu begitu mengkhawatirkan kakanya!!!

Andiee,,, kamu harus kuat ndie, kamu pasti bisa melewati semua cobaan ini,
Ucap Yadnoe dalam hati,,

*****
Jam sudah menunjukan pukul dua pagi, Andie belum juga siuman,
karna puasa ramadhan tinggal 1 hari lagi, Yadnoe dan Nabilapun memaksakan diri untuk makan sahur walau nafsu makan itu hilang karna kecemasan,
Dan merekapun baru bisa tertidur lelap setelah keduanya melaksanakan solat subuh! Begitu terlelapnya sampai mereka tidak mengetahui ketika dokter masuk, Andie sempat siuman, namun tidak berlangsung lama Andie pun mengerang kesakitan dan kembali tak sadarkan diri,

*****
Siangpun berganti malam. Alunan takbirpun telah berkumandang, bertanda ramadhan telah usai,
Nabila duduk terpaku dihadapan sang kaka yang terbaring tak berdaya,

ka Andie,,, bangun ka,,, bila kangen sama kaka, ucap nabila lirih sambil memeluk Andie

Sementara Yadnoe hanya terdiam! Air matapun mengalir ketika melihat Nabila memeluk kakanya!

Andie,,, bukalah matamu sahabat kecilku,,, lihatlah adikmu yang setiap saat mengkhawatirkan keadaanmu, ucap Yadnoe diiringi deraian air matanya!!!

Seperti mimpi namun nyata,
Tiba2 Yadnoe dan Nabila melihat Andie mulai membuka matanya dan berlahan menggerakan bagian tubuhnya,

Tak sepatah katapun yang keluar dari bibir Yadnoe dan Nabila, hanya air mata yang mengatakan kalau mereka bahagia,

berlahan Andie pun menggerakan tangannya, mengelus lembut kepala Nabila yang tertutup kerudungnya,

Na, Na, Nabilaa,,, tersenyumlah adiku! Kaka tidak ingin melihatmu menangis lagi! ucap Andie terbata bata!

Kemudian tatapan Andie pun tertuju kepada Yadnoe sahabatnya!

Yadnoee!!! Bantu aku untuk bangun dari tempat tidur ini!!! Aku ingin duduk bersama kalian, pinta Andie kepada sahabatnya!!!
kemudian Yadnoepun menuruti permintaan Andie membangunkannya dari tempat tidur tsb!!!

Yadnoee,, bila,,, peluk aku malam ini saja!!! Aku tidak ingin jauh dari kalian berdua!!! Pinta Andie kepada Yadnoe dan Nabila pelan,

Tak kuasa menahan tangis! Kemudian keduanyapun memeluk Andie dengan erat!

Kami tidak akan pernah meninggalkan kamu ndie,,, kami sayang sama kamu, ucap Yadnoe dengan isak tangisnya!!!
Dan Andie pun hanya terdiam

Berlahan Yadnoe dan Nabilapun melepaskan pelukan dari Andie, namun betapa terkejutnya Yadnoe dan Nabila pada saat itu, pelukan hangatnya ternyata pelukan terakhir dari orang yang mereka sayang! Andie meninggal dalam pelukan Yadnoe dan Nabila!!!

Kakaaaa,,,,, bangun ka, bangunnn, jangan tinggalkan Nabila sendiri ka,, jerit tangis Nabila yang tak menerima kenyataan,

Begitu juga dengan Yadnoe, menangis sambil memeluk sahabatnya yang sudah tak kernyawa!!!
Tanpa sengaja dia melihat selembar kertas yang terjatuh dari genggaman tangan Andie!!!
Menudian diapun mengambil selembaran kertas itu dan membacanya!

“Teruntuk Yadnoe sahabatku“
Tiada hal yang paling indah didunia ini selain memiliki sahabat sepertimu,

Sahabatku,,, aku titipkan Nabila adiku padamu,
Sayangi dia seperti adik kandungmu sendiri!
Buatlah ia tersenyum, seperti aku yang selalu berusaha membuatnya tersenyum,
Jagalah auratnya, seperti aku yang selalu mengingatkan tentang siksa seorang wanita yang mengumbar auratnya!
Nabila,,, jaga diri baik baik ya! Kaka sayang kamu,“

Jerit tangispun tak dapat dibendung,
Yadnoe memeluk Nabila yang masih dipelukan kakanya!!!

Selamat jalan sahabat kecilku,,,
Doa kami akan selalu menyertaimu,
Aku janji akan menjaga dan selalu membuat Nabila tersenyum, ucap yadnoe dlm hati!

Selesai:

Sumber:
https://m.facebook.com/andie.t.ofthethumblovers?refid=8&m_sess=soC5YrCx-Qx7Xk9KH

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

SIKSA UNTUK SEMUA WANITA MUSLIM YANG TAK BERJILBAB


WANITA MUSLIM WAJIB MEMAKAI JILBAB
Imam Ali as berkata :
“Saya dan Fathimah menghadap Rasulullah saw
dan kami melihat beliau dalam keadaan menangis
tersedu-sedu dan kami berkata kepada beliau : “
Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, apa
yang membuat anda menangis tersedu-sedu?”
Rasulullah bersabda :
“wahai Ali pada malam mi’raj ketika aku pergi
ke langit ,aku melihat wanita–wanita umatku
dalam azab dan siksa yang sangat pedih
sehingga aku tidak mengenali mereka.
Oleh karena itu, sejak aku melihat pedihnya azab
dan siksa mereka, aku menangis.
Kemudian beliau bersabda :
1. Aku melihat wanita yang digantung dengan
rambutnya dan otak kepalanya mendidih.
Rasulullah saw bersabda :
“Wanita yang digantung dengan rambutnya dan
otak kepalanya mendidih adalah wanita yang
tidak mau menutupi rambutnya dari pandangan
laki-laki yang bukan mahram.
Sepenggal cerita Ali as diatas dari 11 sabda
Rosullullah mengenai wanita yang masuk neraka
menerangkan dengan jelas bahwasanya seorang
wanita akan masuk neraka jika tidak menutupi
rambutnya atau memakai jilbab.
Mungkin kaum wanita sekarang menyangka bahwa
tidak memakai jilbab adalah dosa kecil, bahkan ada
yang bilang lebih baik tak memakai jilbab dari pada
memakai juga tak bisa menjaga kelakuannya”
Kaum wanita menganggap yang terpenting
hatinya dan bisa menjaga prilaku dan mengerjakan
sholat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan.
Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 5 baris terakhir
yang artinya sbb :
“Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum
syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah
pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk
orang-orang yang merugi”.
Sebagaimana telah diterangkan dimuka,
memakai jilbab bagi kaum wanita adalah hukum
syariat Islam yang digariskan Allah dalam surat
An-Nur ayat 59.
Jadi kaum wanita yang tak memakainya, mereka
telah mengingkari hukum syariat Islam dan bagi
mereka berlaku ketentuan Allah yang tak bisa
ditawar lagi, yaitu hapus pahala shalat, puasa,
zakat dan haji mereka?.
Sikap Allah diatas ini sama dengan sikap
manusia dalam kehidupan sehari-hari sebagai
terlambang dari peribahasa seperti:
“Rusak susu sebelanga, karena nila setitik,”.
Contoh :
segelas susu adalah enak diminum.
Tetapi kalau dalam susu itu ada setetes kotoran
manusia, kita tidak membuang kotoran tersebut
lalu meminum susu tersebut, tetapi kita
membuang seluruh susu tersebut.
Begitulah sikap manusia jika ada barang yang
kotor mencampuri barang yang bersih.
Kalau manusia tidak mau meminum susu yang
bercampur sedikit kotoran, begitu juga Allah
tidak mau menerima amal ibadah manusia kalau
satu saja perintah-Nya diingkari.
Di dalam surat Al A’raaf ayat 147, Allah
menegaskan lagi sikapNya terhadap wanita yang
tak mau memakai jilbab, yang berbunyi sbb :
“Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami,
juga mendustakan akhirat, hapuslah seluruh
pahala amal kebaikan.
Bukankah mereka tidak akan diberi balasan selain
dari apa yang telah mereka kerjakan?”
Kaum wanita yang tak memakai jilbab didalam
hidupnya, mereka telah sesuai dengan bunyi ayat
Allah diatas ini, hapuslah pahala shalat, puasa,
zakat, haji mereka.
Kaum wanita yang tak mau memakai jilbab
berada dalam neraka sebagaimana bunyi hadits
Nabi Muhammad SAW diatas,
juga ditegaskan Allah sebagaimana firmanNya di
dalam surat Al A’raaf ayat 36 yang artinya seperti :
“Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami dan menyombongkan diri terhadapnya,
mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal
didalamnya”.
Kaum wanita yang tak mau memakai jilbab,
adalah mendustakan ayat Allah surat An Nur
ayat 31 dan Al Ahzab ayat 59 dan
menyombongkan diri terhadap perintah Allah
tersebut, maka sesuai dengan bunyi ayat
tersebut diatas mereka kekal didalam neraka.
Ummat Islam selama ini menyangka tidak kekal
didalam neraka, karena ada syafaat atau
pertolongan Nabi Muhammad SAW yang memohon
kepada Allah agar ummat yang berdosa
dikeluarkan dari neraka.
Mereka yang dikeluarkan Allah dari neraka, mereka
yang dalam hidupnya ada perasaan takut kepada
Allah.
Tetapi kaum wanita yang tak mau memakai jilbab,
tidak ada perasaan takutnya akan siksa Allah,
sebab itulah mereka kekal didalam neraka.
Sekarang kaum wanita yang tak mau berjilbab,
dapat menanyakan kepada hati nurani mereka
masing-masing.
Apakah terasa berdosa bagaikan gunung yang
sewaktu-waktu jatuh menghimpitnya atau
bagaikan lalat yang hinggap dihidung mereka?.
Kalau kaum wanita yang tak mau memakai
jilbab, menganggap enteng dosa mereka bagaikan
lalat yang hinggap dihidungnya, maka tak akan
bertobat didalam hidupnya.
Atau dalam perkataan lain tidak ada perasaan
takutnya kepada Allah, sebab itu mereka kekal
didalam neraka sebagaimana bunyi surat Al-A’raaf
ayat 36 di atas.
Jadi mereka tak mendapat syafaat atau
pertolongan Nabi Muhammad SAW nanti di
akhirat.
Banyak sekali kaum wanita yang tak berjilbab
sungguhpun mereka mendirikan shalat, puasa,
zakat dan haji, tetapi telah hapus nilai pahalanya
disisi Allah telah terjadi di zaman kita
ini dan akan berketerusan sampai hari kiamat,
kecuali dakwah menghidupkan risalah jilbab ini
dikerjakan bersama-sama oleh seluruh ummat
Islam, yaitu dengan mencetak ulang buku yang
tipis ini dengan jumlah yang banyak dan
disebarkan secara cuma-cuma ketengah-tengah
ummat Islam.
Sesungguhnya banyak kaum wanita yang hapus
pahala shalatnya yang hidup di zaman ini dan di
zaman yang akan datang, semata-mata karena
mereka tidak memakai jilbab didalam hidup
mereka, telah diisyaratkan Nabi Muhammad
SAW dikala hidup beliau sebagaimana bunyi
hadits dibawah ini yang artinya sbb :
“Ada satu masa yang paling aku takuti, dimana
ummatku banyak yang mendirikan shalat, tetapi
sebenarnya mereka bukan mendirikan shalat, dan
neraka jahanamlah bagi mereka”.
Tafsir “…sebenarnya bukan mendirikan shalat…”
dari hadits diatas, ialah nilai shalat mereka tidak
ada disisi Allah karena telah hapus pahalanya
disebabkan kaum wanita mengingkari ayat jilbab.
Begitulah Nabi Muhammad SAW memberi
peringatan kepada kita semua, bahwa
banyak ummatnya dari kaum wanita yang masuk
neraka biarpun mereka mendirikan shalat, tetapi
tidak memakai jilbab didalam hidup,
“Semoga menjadi renungan kita bersama
bahwa yang wajib itu tetap wajib hukumnya,,”
Kalau tidak mulai dari sekarang apakah kita
akan menunggu hari lusa atau disaat kita
sudah tua,,,?”
Ingat satu hal Malaikat maut itu tidak
menunggumu hari lusa besok atau taun depan
mungkin satu menit,jam atau hari esok kita telah
dicabut nyawanya oleh malaikat maut,,”dan kita
benar-benar menjadi orang yang merugi setelah
hari itu datang kepada kita,,”
UNTUK KAUM WANITA SEGERALAH BERJILBAB
SEBELUM AJAL MENJEMPUTMU DAN MEMBAWAMU
KE NERAKA JAHANNAM.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

CERITA HUMOR


Ditulis oleh:
Eky Aйdїё firmansyah.

Cerita ini terinsfirasi dari banyaknya temen2 Чăπğ error dudul dan bahlul!!!
Makanya baca!!!
Kalau ǚϑăƗƗ baca dijamin errornya nambah!!!

*******

Meeeeiiiiiii tunggu mei
Jerit sintya memanggil mei sahabatnya yg sedang berjalan aga jauh dari hadapannya,,,

Ada apa sintya!!!! Jawab mei kaget,,,
Sintyapun langsung mendekati mei kemudian memeluknya!

Selamat ya mei kamu sudah jadi seorang dokter mei! Aku bahagia sekali mendengarnya!!! Ucap sintya sambil memeluk mei!!!

Terimakasih sintya!!! Semua ini karna doa kamu jg sin!!! Makasih ya! Jawab mei pelan,,,

Iya sama2 mei!!! Yasudah aku pergi kepasar dulu ya mei, mumpung masih pagi!!! Soalnya kalau kesiangan pedagang jengkol udah pada ludes mei!!! Kamu kan tau sendiri mei, sehari saja aku ga makan jengkol rasanya gimana gitu!!! Semua bulu bulu yg ada ditubuhku bisa pada rontok mei!!! Nanti botak doooonggggg kelihatan kutilnya!!! Ucap sintya buru2

Ya sudah sintya hati2 ya! jawab mei sambil tersenyum geli!!!

******

Beberapa bulan kemudian tiba2 mei mendatangi rumah sintya sambil menangis tersedu sedu!!!
Pada saat itu sintya pun merasa aneh dengan mei sahabatnya!!!

Kamu kenapa menangis mei!!! Tanya sintya!!!!
Karna sintya sahabatnya yg paling dekat!!! Akhirnya mei pun menceritakan kejadian yg menimpahnya!!!

Aku melakukan hubungan intim dengan pasienku hickk!!! Jawab mei sambil mengusap air matanya!!!

Apaaaaaaaaaa????? Kamu melakukan hubungan intim dengan pasienmu mei!!! Jawab sintya kaget!!!

Ia sintya!!! Aku takut sintya!!! Aku takut ayah dan ibuku shok jika nanti tau masalah ini!!! Jawab mei ketakutan!!!

Sebagai sahabat, sintya tidak bisa berbuat apa2 selain memberikan solusi yg terbaik buat mei!!!

Siapa nama pasienmu mei!!! Tanya sintya!!!!
Namanya faa sintya!!! Jawab mei pelan!!!

Besok antarkan aku ketemu sama faa ya mei!!! Aku mau dia bertanggung jawab atas semua ini!!! Pinta sintya!!!

Jangan sintya jangan!!! Jawab mei melarang!!!
Kenapa mei kenapaaaaa!!! Dia harus bertanggung jawab mei!!!! Bentak sintya!!!

Masalahnya!!!!

Masalahnya apa mei apaaaaa!!! Jawab sintya memotong pembicaraan mei!!!

Masalahnya aku ini seorang dokter hewan sintya!!! Jawab mei!!!

Apaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!
Lalu faa itu siapa mei siapaaaaaaaaaaa!!!!! bentak sintya emosi!!!

Faa itu nama gorila!!!
Dia pasienku!!!!!! Jawab mei malu!!!
=))˚˚°W̶̲̅ªªκ̣̇ªκ̣̇ª˚°º˚κ̣̇ªκ̣̇ªκ̣̇ª˚˚°=))=))˚˚°W̶̲̅ªªκ̣̇ªκ̣̇ª˚°º˚κ̣̇ªκ̣̇ªκ̣̇ª˚˚°=)) kaburrrrrrrrrrrr!!! 

Sumber:
https://m.facebook.com/andie.t.ofthethumblovers?v=feed
No copas.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

SAHABATKU


Hujan terus mengguyur kota Jakarta sejak sore.
Nabila sudah basah kuyup.
… Gadis kecil tersebut
menggigil kedinginan di pinggir jalan. Tepatnya ϑΐ depan sebuah toko yang sudah tutup. Tangan kecilnya mulai membiru. Kaki dengan sandal
yang berbeda warna tersebut terus gemetar.
Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.
Tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Gadis kecil tersebut tidak ada tenaga untuk berjalan lagi
karena dia juga belum makan sejak tadi siang.
Nabila mulai menangis. Kenangan masa lalunya mulai bermunculan.
Dimana saat itu dia bergandengan
tangan dengan ayah dan ibunya.
Lalu kenangan tersebut berganti dengan kejadian lain yang membuat senyum manisnya hilang.
Kejadian ϑΐ mana kedua orang tuanya meninggal karena tabrak lari di depan matanya sendiri.

Saat itulah hidupnya mulai berubah. Setelah kedua oarang tuanya meninggal, dia di asuh oleh bibinya.
Namun, tidak lama kemudian bibinya Ĵчğå meninggal karena penyakit TBC.
Sejak saat itu orang-orang mulai menganggap Nabila gadis pembawa sial.

Sekarang dia hidup di jalanan. Dia
tinggal di rumah kardus bersama seorang nenek yang sudah tua. Flashback tentang masa lalunya
membuat hatinya semakin perih. Kadang dia mengeluh pada Tuhan kenapa hidupnya begitu
menderita. Kenapa Tuhan tidak segera mencabut nyawanya agar dia bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya.

Saat kesadarannya hampir hilang, samar-samar dia mendengar seseorang memanggil namanya.
Perlahan-lahan suara tersebut semakin jelas.
“ Nabila, kamu nggak apa-apa kan?” tanya seseorang
dengan khawatir.
Nabila mengenali suara itu. Yah,
itu adalah suara Irul.
Irul adalah satu-satunya orang
yang menganggap nabila penting. Usia Irul dan Nabila
tidak terpaut jauh. Hanya beda satu tahun. Umur Nabila hampir 10 tahun sedangkan Irul 11 tahun.
Sejak pertama kali bertemu, Irul sudah
menganggap Nabila sebagai sahabatnya karena nasib mereka yang hampir sama.

“Nabila, ayo bangun, jangan tinggalin aku.. Ќäªmu jangan mati.. ntar aku sama siapa?” Irul mulai panik karena tubuh Nabila tidak bergerak. Dia mulai
menggoncang-goncang tubuh Nabila sambil menangis.
“apaan sih kamu Rul, sakit tahu.. “ jawab Nabila lemah.
“Dasar.. jadi kamu ga mati? kamu naku-nakutin aku ajah. Ayo kita pulang. Nenek sedang
menunggu kamu. Dia khawatir tau sama kamu.”
Ucap Irul sambil membantu nabila untuk bangun.
Mereka pulang bersama.

+++
Esoknya..
“Nabila, kamu udah ga apa-apa? muka kamu pucet ”
ucap Irul ketika mereka berpapasan di jalan.
Irul memegang kening Nabila lalu bergantian memegang keningnya.
“Tuh kan, badan kamu panas” ucapnya.
“Aku ga apa-apa. Udah sana sekolah. Nanti telat loh” ucap Nabila mencoba untuk menghapus kekhawatiran Irul.
“ya udah hati-hati yah. Nanti sepulang sekolah aku bakal beliin kamu obat” ucap Irul.

Irul memang lebih beruntung daripada Nabila. Irul masih dapat bersekolah karena beasisiwa.
Irul adalah juara umum di sekolahnya sehingga dia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah.
Walaupun Irul pintar dan juga cerdas dia tidak pernah sombong. Dia sering mengajarkan pelajaran kepada teman-teman lainnya yang tidak
mempunyai kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah seperti halnya Nabila. Irul sangat bersahabat, periang, ceria dan juga baik hati.
Sifatnya memang bertolak belakang dengan Nabila yang pendiam dan jutek. Namun, Irul selalu
berfikir bahwa sifat pendiam dan jutek adalah karena dia kesepian.
Oleh karena itu, dia tidak boleh membiarkan Nabila sendiri dan kesepian lagi.
Terbukti setelah Irul giat mendekati Nabila dan mengajak Nabila berteman, sifat pendiam dan jutek Nabila mulai berkurang. Perlahan Nabila mulai
menganggapnya teman.

+++
“Hheii…”Irul mengagetkan Nabila yang sedang melamun di pinggir jalan.
“Huh.. kamu mau bikin aku jantungan yah” oceh Nabila. Dia kaget setengah mati.
“Lagian kamu sih siang hari gini malah melamun,
bukannya cari uang.” ucap Irul membela diri.
“Eh, tapi muka kamu masih pucet tuh. Jangan- jangan kamu belum makan ya? dasar.. udah tahu
lagi sakit, tapi kenapa ga makan dulu sebelum kerja? kalau kamu pingsan di tengah jalan gimana? siapa coba yang nolong kamu?”
cerocos Irul yang kesal melihat sahabatnya yang tidak memperhatikan kesehatanya itu.
“Huh.. kamu tuh kaya ibu-ibu tau ga? Cerewet banget sih.. lagian mana bisa aku beli sarapan..
Ояaиg tadi sore aku ga dapet uang sepeserpun.”
Jawab Nabila kesal.
Irul terdiam sejenak. Dia teringat kejadian tadi malam yang menurutnya cukup mengerikan karena dia sempat berfikir bahwa dia akan kehilangan Nabila. Lalu dia segera membuka tas lusuhnya.
Dia mengeluarkan sepotong roti yang
di berikan oleh ibunya tadi pagi. Dia memotong roti tersebut menjadi dua. Lalu memberikan sebagian roti tersebut kepada Nabila.
Nabila menerimanya dengan ragu.
Irul Ĵчğå mengeluarkan botol plastik minuman dan satu tablet obat demam yang dia beli di warung.
“Setelah makan roti, kamu harus minum obat ini yah” ucap Irul sambil memberikan obat dan botol minumannya.
“Terimakasih. Harusnya kamu ga usah repot- repot” kata Nabila tidak enak.
“Ga apa-apa. Aku ga mau kamu sakit” ucap Irul sambil tersenyum.
Mereka makan roti bersama.
Setelah itu mereka segera pergi mengamen di lampu merah dengan
ceria. Langit yang berawan seolah melindungi mereka dari panasnya matahari di siang hari itu.

+++
Sore hari di perjalanan pulang..
“Pendapatan kita hari ini lumayan banyak yah “
ucap Nabila senang. Setidaknya nanti malam diabisa membeli nasi untuk dia dan neneknya.
Sekaligus bisa menyisihkan sedikit uang untuk makan esok paginya.

“ya Alhamdulillah. Hehe.. ibu pasti senang deh nerima uang ini” ucap Irul senang sambil melihat
uang hasil kerja kerasnya itu.
Tanpa Irul sadari, muka Nabila berubah sedih. Dia teringat orang tuanya. Andai mereka masih hidup.
Diam-diam Nabila iri dengan Irul yang masih memiliki seorang ibu di bandingkan dengan dirinya yang tidak punya siapa-siapa. Selain itu Irul
juga memiliki kesempatan untuk sekolah sedangkan dia tidak.
Tanpa disadari Irul, Nabila berhenti di depan etalase sebuah toko. Rupanya
Nabila tertarik dengan sebuah gaun berwarna pink dengan renda-renda di pinggirnya yang ϑΐ pasang di depan etalase toko tersebut.
Dia mengingat sesuatu. Yah, dia ingat, dulu sebelum kedua orang tuanya meninggal, mereka berniat
untuk membelikan gaun tersebut kepada Nabila sebagai hadiah ulang tahun Nabila yang ke sembilan.
Tanpa sadar air mata Nabila mengalir
mengingat kejadian waktu itu.
Dia teringat senyum ibunya yang begitu tulus.
“Nabila sayang, kamu suka sama gaun itu?” tanya ibunya. Saat itu mereka sedang melewati etalase toko yang memajang sebuah gaun pink berenda yang indah.

“Iya bu, aku suka sama gaun itu” jawab Nabila senang.
“Oke.. besok kita ke sini lagi yah sama ayah buat beli gaun itu. Ayah dan ibu sudah mengumpulkan uang buat beli hadiah yang Nabila suka” kata ibu tersenyum,

Esok paginya mereka bertiga pergi ke toko tersebut. Namun saking senangnya, Nabila berlari
menghampiri toko yang ada di seberang jalan.
Sang ibupun segera menyusul Nabila, namun Saat mereka ada di tengah jalan raya, tiba-tiba ada sebuah mobil truk yang melaju kencang.
Ayah yang mengetahui bahaya yang di hadapi anak dan istrinya langsung mendorong mereka berdua ke pinggir jalan. Namun naas, ayah Nabila tidak
sempat menghindari truk tersebut.

Dengan seketika tubuh ayah Nabila terlempar ke jalan
dengan darah mengalir deras dari kepalanya.
Ayahnya meninggal seketika.
Ibu yang kaget langsung berlari mendekati ayah, namun dari arah samping, sebuah mobil mini bus melaju kencang dan langsung menabrak tubuh ibu Nabila
hingga dia meninggal seketika di samping ayahnya.
Saat itu Nabila langsung menjerit.

Itulah awal semua penderitaanya.
“Kamu kenapa?” tanya Irul menyadarkan lamunan Nabila. Irul khawatir karena tadi tiba-tiba Nabila
menghilang, ternyata dia menemukan Nabila yang menangis di depan etalase toko.
“Aku ga apa-apa” jawab Nabila sambil mengusap air matanya dengan kaos lusuhnya.
“jangan bohong deh. Kalau ga apa-apa kamu Ъќ mungkin nangis” ucap Irul tidak percaya.
Akhirnya Nabila menceritakan semua beban hidupnya kepada Irul. Semua beban yang sudah dia simpan selama hampir satu tahun. Semua kesedihan dan kegundahan yang ada di hatinya,
dia curahkan semuanya pada Irul sahabatnya.
Irul mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia sesegukan. Terharu mendengar kisah hidup Nabila.
Dia tidak menyangka sahabatnya yang selalu kelihatan kuat ternyata menyimpan duka dan lara yang begitu dalam.
Dalam hati dia bertekad untuk membuat Nabila ceria
dan bahagia lagi. Apapun caranya.

+++
“Irul mana bu?” tanya Nabila kepada ibunya Irul.
Akhir-akhir ini dia jarang sekali melihat Irul. Dia khawatir Irul kenapa-napa. Oleh karena itu dia sengaja datang ke rumah Irul untuk menanyakan
kabar Irul pada ibunya.
“ooohh.. Irul sedang ngamen. Ibu juga ga ngerti.
Dari kemarin setiap pulang sekolah dia langsung ngamen tanpa pulang dulu. Padahal kan biasanya dia pulang dulu buat ganti baju. Selain itu dia
juga sering pulang larut malam. Ibu juga khawatir takut Irul kenapa-napa” jawab ibunya Irul khawatir.

“Emm.. makasih ya bu, saya cari Irul dulu” ucap Nabila.
Dia bingung dengan sikap Irul yang berubah.
Ada apa sebenarnya. Itulah pertanyaan yang ada ϑΐ benak Nabila.

+++
Sudah dua minggu Nabila tidak bertemu dengan Irul.
Yang dia tahu dari teman-temannya, Irul pindah dari tempat ngamen yang biasanya.
Oleh sebab itu dia tidak pernah bertemu dengan Irul.
Nabila benar-benar khawatir dengan sahabatnya sekaligus rindu dengan sikap Irul yang ceria dan
selalu membuatnya tersenyum.

“Nabilaaaa..” teriak seseorang memanggilnya.
Membangunkan Nabila dari lamunanya.
“ada apa ndie ?” tanya Nabila pada Andie, teman Irul.
“tadi aku ketemu Irul. Dia nitip ini buat kamu”
kata Andie sambil menyerahkan sepucuk surat pada Nabila.
Nabila segera membaca surat surat tanpa amplop tersebut.

“Dear Nabila..
Aku tunggu kamu di depan etalase toko yang memajang gaun indah berwarna pink.
By: Irul“

Deg, apa yang di lakukan Irul di sana. Tiba-tiba perasaan Nabila jadi tidak enak. Dia segera berlari
menuju toko tersebut.

+++
Sekarang dia telah sampai di seberang toko tersebut. Nafasnya masih tidak teratur.
Dia berusaha untuk mengatur nafasnya dulu.
Namun, di seberang jalan tempatnya berdiri, tampak sesosok anak laki-laki berpakaian lusuh sedang melambai-lambaikan tangan sambil berusaha untuk menunjukan sebuah kantong kresek transparan yang dari jauh tampak berwarna pink di mata Nabila.

Nabila terbelalak.
Itu Irul.,, Tapi apa yang di bawanya..
“Jangan-jangan..” ucap Nabila tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Tanpa di sangka Irul berlari kecil menyebrang jalan
menuju Nabila yang ada di seberangnya. Namun, Irul
tidak sadar bahwa di sampingnya ada mobil yang melaju kencang. Nabila yang menyadarinya mulai panik. Kejadian-kejadian di masa lalunya mulai kembali muncul. Tapi sekarang Nabila tidak mau kehilangan lagi. Sudah cukup baginya mengalami
kehilangan. Kali ini dia tidak akan membiarkan orang yang di sayanginya pergi lagi.
Nabila berlari menghampiri Irul.
Dia mendorong Irul.
Mereka berdua jatuh di pinggir jalan.

“Dasar.. kamu udah gila ya ? kamu mau mati ya ?
kalau kamu mati gimana sama ibu kamu ?
gimana sama aku ? kamu jahat..” cerocos Nabila
setelah mereka selamat dari maut. Air matanya berlinang. Dia benar-benar takut kehilangan sahabatnya itu.

“Maafin aku yah. Aku Cuma mau bikin kejutan buat kamu.
Lihat!!! aku beli gaun yang waktu itu
ga sempet di beliin sama orang tua kamu..
selamat ulang tahun yah Nabila..” kata Irul sambil tersenyum.
Nabila baru sadar kalau sekarang adalah hari ulang tahunnya yang ke sepuluh. Hari di mana dia
kehilangan kedua orangtuanya sekaligus awal dari penderitaanya.

“Aku ga butuh apapun. Aku cuma mau kita bareng terus..”kata Nabila sambil menangis.
“Aku tahu. Aku ga akan ninggalin kamu. Aku cuma mau meneruskan apa yang mau orang tua kamu kasih ke kamu. Aku cuma mau kamu
tersenyum dan bahagia lagi.. hehehhe” kata Irul
“Makasih..” ucap Nabila tersenyum.

Ayah ibu terimakasih. Ucap Nabila dalam hati.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

MASIH MERINDUKANMU


Hujan deras mengguyur daerahku waktu itu. Bersama kakak sepupuku yang menemani. Sementara kedua orang tuaku sedang bekerja. Aku mempunyai banyak saudara sepupu. Tapi diantara mereka, hanya ka Rhey lah yang paling aku sayang.
Aku sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri.
Setiap aku sendirian di rumah, ka Rhey lah yang menemaniku.
Dengan gurauan-gurauan ciptaannya selalu membuatku tertawa meskipun sama sekali tak ada yang lucu dari gurauan-gurauannya.
Mungkin aku tertawa karena melihat usahanya membuatku tertawa.

“Gak lucu aah.. masak gitu ngelawaknya. Coba bikinn aku ketawa.” Kataku.
“cara bikin kamu ketawa cuman satu.” Kata ka Rhey.
“Apa?”
“Gini caranya.” Jawabnya lalu menggelitikku.
“Aaa.. curang nih, ya gak boleh pake cara itu.” protesku dengan menahan tawa.
“terserah aku dong. Yang penting kan bisa ketawa.” Jawabnya mengelak.

⁠⁠

Tiba-tiba, “AAAARGH… Sakit… sakit banget dek… tolongin kaka..
”Ka Rhey kesakitan.
Entah apa yang terjadi padanya.
Ka Rhey kesakitan, sangat kesakitan. Ka Rhey terus memegangi pinggangnya yang sakit.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan waktu itu.
aku masih terlalu kecil.
Aku pun mengambil HP yang ada di saku ka Rhey dan mencoba menghubungi ibu.

“Assalamualaikum.
Bu,,,, tolongin ka Rhey,
Ka Rhey kesakitan. Pinggangnya ka Rhey sakit. Cepet ke sini bu.”
“Ada apa sih nak?? Tenang dulu.
Pelan-pelan ngomongnya. Ada apa?? Ka Rhey kenapa??” Tanya ibu mencoba menenangkan.
“Ka Rhey kesakitan bu,,. Ibu cepet ke sini. Di sini nggak ada orang.”
“Iya, iya. Ibu ke sana sama ayah.”

Saat itu aku sangat takut, sangat cemas dan ketakutan. aku tidak tahu mengapa aku bisa setakut itu. Seolah-olah aku mengrti apa yang sedang terjadi. Padahal aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan ka Rhey.

Ketika di rumah sakit, aku hanya menunggu dengan cemas di pangkuan ayah.
Selang beberapa saat, dokter datang. Tapi saat aku sudah tertidur pulas di pangkuan ayah.

Keesokan harinya, ketika kubuka mataku, ternyata aku sudah berada di kamarku yang nyaman. Saat itu pula aku melihat sosok yang sangat kukenal berada di sampingku sedang tersenyum padaku.

“Hei poutry,, sudah bangun kamu dek? Gimana tidurnya? Nyenyak?
” tanya ka Rhey
ketika aku menyadari kehadirannya.
Aku segera bangun dan segera memeluk ka Rhey dengan erat seolah tak mau melepasnya.
Tak terasa air mataku pun menetes. “Loh, kok nangis sih?
” tanya ka Rhey.
“Ka Rhey kemarin kenapa?
Aku takut.” Jawabku terisak.
“Kaka nggak apa-apa poutry.
Adek nggak usah khawatir.” Kata ka Rhey menenangkan.
“Poutry sayang ka Rhey. Poutry nggak mau ngeliat ka Rhey kayak gitu lagi.
Poutry nggak mau melihat ka Rhey kesakitan kayak kemarin.
” Aku masih menangis, semakin keras.
“Udah dong jangan nangis yah,
Kaka janji nggak bakal kayak gitu lagi. Tapi kamu harus berhenti nangis dulu. Kalau kamu masiih nangis kaka nanti sakit lagi loh. Jangan nangis yah.
” Kata ka Rhey.
“Iya ka, poutry janji nggak nangis lagi.” Kataku sambil menghapus air mataku.
“Iya, kamu mandi dulu gih. Bau tau.” Goda ka Rhey,

Setelah selesai mandi, aku segera pergi ke rumah ka Rhey yang hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah dari rumahku.

Setibanya di sana, aku segera masuk ke kamar ka Rhey,
tapi tak seorangpun kutemui.

Sementara itu di kamar ibunya ka Rhey,

“Kenapa harus Ќäª♍ΰ nak?
Kenapa bukan ibu saja yang terkena penyakit itu.
Ibu rela kalau ibu yang memiliki penyakit itu.
Ibu sudah tua, sementara kamu, masih sangat muda, masa depanmu masih sangat panjang.
” Kata ibunya ka Rhey dengan menangis,
kemudian memeluk ka Rhey.
“Udah lah bu. Semua yang hidup pasti akan meninggal. Termasuk Rhey bu.” Kata ka Rhey menenangkan.
“Tapi nggak secepat ini nak.
Ibu masih ingin sama kamu,
Ibu ingin melihat kamu sukses dan bahagia.” Kata ibu ka Rhey,
saat itu ayahnya ka Rhey tak bisa berkata apa-apa.

Ka Rhey adalah anak satu-satunya, sekaligus anak kesayangan ayahnya. “Jangan beritahu ke poutry tentang ini ya bu, aku nggak mau melihat poutry sedih.” Kata ka Rhey,
di saat itu aku datang. “Assalamualaikum,
Dari tadi poutry cariin dimana-mana nggak ada ternyata pada di sini.
” Kataku mengagetkan mereka,
segera mungkin mereka menghapus air mata yang ada di pipi mereka. “Waalaikumsalam.
eh, ada poutry. Sini dek.” Kata ka Rhey.
Aku menghampiri ka Rhey,
kemudian ia memelukku dengan menangis.
“Loh, ka Rhey kok nangis? Kenapa?” tanyaku dengan polos.
“Nggak apa-apa kok poutry. Kaka Cuma seneng ade ada di sini.
” Jawab ka Rhey.
Kemudian ka Rhey melepas pelukannya.
“Ka, maen yuk.” Ajakku.
“Iya. Ayo, mau main apa?” tanya ka Rhey.

*****
Minggu demi minggu kulewati bersama ka Rhey, aku tak ingin berpisah dengannya walaupun hanya beberapa jam saja.
Aku ingin selalu bersamanya seolah merasa waktu itu adalah saat-saat terakhirku bersama ka Rhey.

Suatu hari, aku melihat ayahnya ka Rhey sangat panik dan tergesa-gesa menuju mobil disamping jalan.

Sesaat kemudian mobil itu malaju di tengah derasnya hujan.
Terlihat samar-samar dua penumpang di kursi belakang. Mungkin itu ka Rhey dan ibunya.
Mereka pergi tanpaku. Aku sendirian di rumah. Hatiku resah, aku merasa seolah sesuatu yang buruk akan terjadi pada ka Rhey.
Aku mulai menangis, aku berlari menuju teras rumah, kemudian memeluk ayah.
“Ayah,,,, ka Rhey sama ayah dan ibunya tadi kemana?
Ayo kita susul. Aku takut.” Kataku sambil menangis di pelukan ayah. Kami pun pergi menyusul ka Rhey.

Ternyata tempat yang kami tuju adalah rumah sakit.
“AYah, ini kan rumah sakit. Kita kok ke sini?” tanyaku heran.
“Ka Rhey ada di dalam sedang dirawat nak.” Jawab ayah.
Sesampainya di dalam. Aku melihat ayah dan ibunya ka Rhey sangat panik.
Mereka sedang menangis.
Aku semakin resah aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada ka Rhey.
Kami hanya bisa berdoa, berdoa dan menunggu.

Empat puluh menit berlalu, tak seorangpun keluar dari ruangan tempat ka Rhey berbaring lemah.
Kami sangat khawatir.
Saking lamanya aku tertidur di pangkuan ayahku.

Ketika aku terbangun, aku sudah berada di kamar ku. Seperti biasa, ka Rhey sudah berada di sampingku. “Selamat pagi poutry.
Gimana tidurnya? Nyenyak?” Tanya ka Rhey.
Aku hanya terdiam.
“Dek, dengerin kaka ya, kaka mau pergi, kaka perginya lama banget,
dan nggak bisa ketemu poutry lagi.
Poutry jaga diri yah.
Kaka nitip ayah sama ibu.
” Kata ka Rhey.
“Loh, emang ka Rhey mau kemana? Poutry ikut ka. Poutry nggak mau ditinggalin ka Rhey.
Poutry mau sama ka Rhey.
” Aku mulai menangis,
aku menghampiri ka Rhey dan ingin memeluknya. Tapi ka Rhey tidak membiarkanku memeluknya.
“Kamu harus ingat dek, kaka sayang sama poutry.
Selamat tinggal.
” Ka Rhey pun menjauh.
“Ka Rhey. Jangan pergi, jangan tinggalin poutry.
Ka Rhey berhentiiiii.
” Aku berteriak semakin keras. Akupun terbangun, aku lega aku hanya bermimpi.
“Alhamdulillah, itu cuma mimpi. Nggak mungkin ka Rhey ninggalin aku.
Ka Rhey, aku harus nemuin ka Rhey.
” Aku berlari menuju rumah ka Rhey.

Sesampainya Ək̶̲̅υ̲
Di depan rumah ka Rhey, banyak orang di sana ada para tetangga, saudara jauh, saudara dekat, teman-teman ka Rhey dan masih banyak lagi.

Ibu melihatku lalu kemudian menghampiriku, kemudian memelukku.
“Ada apa Bu? Kok rame banget di rumah ka Rhey.
Ka Rhey ada di rumah kan Bu?” tanyaku.
“Yang sabar ya nak”
aku tak mengerti maksud dari kalimat yang diucapkan ibu.
Aku berlari mesuk ke rumah. Menghampiri ibunnya ka Rhey yang sedang menangis.
“Bu,,, ka Rhey mana?” tanyaku.
Dia tidak menjawab, dan masih menangis.
Kuulang pertanyaan yang sama.
“Bu,,, ka Rhey mana?” kemudian dia memelukku.
“Mana ka Rhey, aku mau ketemu sama ka Rhey. Bawa sini ka Rheynya.
” Aku mulai menangis, semakin lama semakin keras. Aku histeris beteriak-teriak memanggil nama ka Rhey.

Di hari itu aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. aku terpukul, meskipun aku masih sangat kecil, aku mengerti. Aku mengerti semua yang terjadi waktu itu. Tentang sakit itu, rahasia itu, dan mimpi itu.
Hari ini, Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagiamu. Di sertai gerimis hujan, kami lantunkan doa-doa untukmu. Semoga ka Rhey bahagia di sana. Aku sangat merindukanmu ka. Ka Rhey juga masih menjadi kakak kesayanganku. Aku sayang ka Rhey!!!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

BIMBINGAN ORANG TUA (B.O.T.)


Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari
keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.
Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah
yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan
membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua
sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.
Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang
belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar
menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk
anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut
mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk
meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun
ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria.
Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan
dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria… Mereka kemudian memohon
pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,
reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar
wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan
menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai
hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan
bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,
tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan
uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat
sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk
surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang
pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. ‘Walaupun ia kelak
bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua’, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah
memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya
hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji
setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi
penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi
menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak
antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu,
sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

==========0000000000==============

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang
ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk
membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah
industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam
sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan
ini sambil menggendong anak di punggungnya.

Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak
memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi
sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya…

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya
sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus
menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan
itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi
sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang
sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak
mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan
belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya,
untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada
di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur
dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari
pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat
mulutnya dengan sepotong kain… Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang
mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak
mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang
ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.
Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang
sedang dilakukan oleh sang ibu ………… .

==========0000000000==============

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,
cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya… Di hari minggu,
mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu ‘Shi Sang Chi You Mama Hau’
(terjemahannya ‘Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik’).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.

Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam
hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan
biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.
Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu
mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain
yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia
akan membelinya bulan depan. ‘Apakah kamu punya uang?’
tanya sang pemilik toko. ‘Tidak sekarang, nanti saya akan punya’, kata sang
anak dengan serius..

Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb.
Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.

Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya ‘Dari mana kamu mendapatkan
uang itu? Bukan mencuri kan ?’. ‘Saya tidak mencuri, kakek…

Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang
pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari
sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam
ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku.. O ya, jangan beritahu ibuku
tentang hal ini. Ia akan marah’ kata sang anak. Sang pemilik toko tampak
kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera
memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang
ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam
tangan ini memang adalah impiannya.. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari
mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.

‘Apakah kamu mencuri, Nak?’ Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin
ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.

Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya
telah mencuri. ‘Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah
ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?’ kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada
anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
melakukannya, demi kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah
tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. ‘Ia
sebenarnya anak yang baik’, kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya.

Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika
mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan.
Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon
agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya. ‘Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya’. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.
Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak
tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam
tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang
tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb,
begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
keduanya menangis dengan tersedu-sedu.’Maafkan saya, Nak.’

‘Tidak Bu, saya yang bersalah’………….. ..

===========000=================

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya
mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini,
karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,
mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari
bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung
semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan
baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin
melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

===========000==================

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau
kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya
medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang
tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah,
karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling
kota , bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan
lagu ‘Shi Sang Chi You Mama Hau’, lagu kesayangan
mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut
dalam kegembiraan bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak
menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.
‘Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak’ kata
ibu.. ‘Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu’, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang
ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2
ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan
mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama
ibunya, sang anak menolak. ‘Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu’,
teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis,
sang ibu berkata ‘Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.
Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.’ ‘Tidak, aku tidak mau
mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya?
Ibu sekarang tidak mau saya lagi’, sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 ‘Kalau ibu sayang
padaku, bawalah saya pergi, Bu’. Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa dengan mengatakan ‘Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
disini’, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya
meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia
telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak
akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri
itu dibatalkan, demi anaknya juga………. ..

============000=========

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.

Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,
yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai
bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah
kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia
akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.
Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong.
Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu
kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di
depan rumah tsb, menangis ‘Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.’

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini
adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya
mungkin pulang ke rumah.. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang
ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya
dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah
pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila
kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih..
Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan, demamnya
tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke
rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan
berguling2 jatuh ke bawah………. ..

============000==============

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah.
Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh
dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak
telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi
hasilnya nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama
pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil
mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah
‘Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?’

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu ‘Shi Sang Ci You Mama Hau’ dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka
berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua
itu dan berteriak dengan haru ‘Ibu? Ini saya ibu’.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,
‘Apakah kamu ??..(nama anak itu)?’ ‘Benar bu, saya adalah anak ibu?’.

Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi
bumi …………… .

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang
ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,
tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai
orang gila.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

CЁЯЇTA GОКЇL TЦКAИG BЄCAК DAЙ TЦКAИG BAК$О


CЁЯЇTA GОКЇL TЦКAИG BЄCAК DAЙ TЦКAИG BAК$О

Dїтцlї$ оlєн : Єку Aйdїє Fїґмaй$уaн

***
FAA adalaн $ёояaйg laкї2 уg $ётїap нaґїйуa Ьєкєяja $ёЬagaї тцкaиg BЄCAК,
Pada $цaтц нaяї кётїкa dїa $єlє$aї мёмЬaшa pєицмpaиg,
FAA pци кёмЬalї мёlajцкaи BЄCAКйуa кёaґaн pёdagaиg BAК$О daи Ьёяиїaт цитцк мёмвёlїйуa,,
Pєdagaиg BAК$О тёґ$єЬцт тїada laїй adalaн HЁИКУ,

$ё$aмpaїйуa FAA dїdєpaи gёґоЬaк BAК$О мїlїк HЄИКУ,
FAA pцй laиg$цйg мёмё$aйиуa!

Ьaйg Ьaк$о вaйg, 2000 ajё уё, уaйg pєdє$ Ьaиg, тёґц$ кa$їн ґaщои aмё pєйтоlиуё уё Ьaиg, pїйтa FAA кєpada HЄИКУ $ї тцкaйg BAК$О,

Йї тцкaйg BЄCAК, цdaн їтєм, paйцaй, кєтёкиуa вaц lagї, нaґї gїиї Ьєlї BAК$О cцмa 2000 нцfн кёґёёёє, Ьї$їк HЄЙКУ dalaм нaтїиуa,

Иaмци тїdaк laмa кємцdїaй HЁЙКУ pцй мёмвєяїкaи pє$aиaи уg dїpё$aй FAA

Baйg BЄCAК…Иї Ьaк$оиуa, $apa HЁЙКУ
Кёмцdїaи FAA pцй мёмєgaиg мaиgкок уg dїЬёґїкaй HЁИКУ,

Lон вaйg.., ко cцмa кцaниуa dоaиg $ї, кaи aує pё$aйиує тadї paкё яaшои aмє dїкa$їн pєйтоlиує вaйg, тaйуa FAA $єdїкїт ёмо$ї,

Ён тцкaиg BЄCAК. 2000 итц cцмa dapaт кцaнйуё dоaйg вaйg, lagїaй мaиє adє нaґї gїйї BAК$О уg нaґgaиує 2000, jaшaв HЁЙКУ $ї pєdagaиg BAК$О dёиgaй йada ємо$ї pцla,

Уa єlaн Ьaйg, кaуa кaga кёиal $aмa кїтa aja, $aЬaи нaґї paй кїтa lёшaт dїмaґї кlщ lagї йgєBЁCAК, jaщaв FAA кє$al,

Hёммм aвaиg BЄCAК кaga pёґиaн dєйgєя уё,
ївaґaт кaтє тцн
“тдќ ќέйдļ мдќд тдќ şдλдйб ”
Йaн… $їтц кйal jцga кaga $aмa кїтa, daтєиg2 вєlї BAК$О cцмa 2000, $їтц кaи Ьaяц pёґтaмa ж мaкaи BAК$О dї мaяї, jaщaЬ HЄИКУ $aмвїl мєяёdaм ёмо$ї,

Mёйdёиgaґ кaтa2 HЁЙКУ $ї pёdagaиg BAК$О Ьїcaґa $ёpёґтї їтц, FAA pцй laйg$цйg dїaм daи pёґgї мёиїиggalкaи HЁИКУ dєиgaй мцкa кё$al,


Bєвєґapa нaґї кёмцdїaи,
Tєяlїнaт HЁЙКУ $їpєdagaиg BAК$О кёlцaя daяї $єЬцaн pa$aя $ётєlaн вєґЬёlaйja кєвцтцнaй daй pёяlєиgкapaи jцalaй BAК$Оиуa,
Dїapци мёйциggц тцкaйg BЁCAК lёщaт цитцк мёиgaйтaяиуa pцlaиg кєяцмaн,
иaмцй $єтёlaн laмa мёйцйggц, тaк ada $aтцpци BЄCAК уg мёlїитa$ dї$єкїтaґиуa,
Aкнїяиуa dёйgaи тєяpaк$a, HЁИКУ pци Ьєґjalaи кaкї,
Daй $єтёlaн вєЬєяapa laйgкaн, тїЬa2 FAA $їтцкaйg BЁCAК мёlїйтa$ dїdёpaииуa,

Кaяиa тїdaк кцaт мёмвaшa Ьaґaиg вєlaйjaaийуa, dєйgaй тёяpa$кa HЁЙКУ pци мємaиggїl FAA $їтцкaиg BЁCAК уg pєґйaн adц мцlцт dёйgaийуa,

Baиg,,, BЁCAК Ьaиg… Paиggїl HЄИКУ $їтцкaиg BAК$О,
FAA pцй вёянєйтї daи тёяdїaм,
Aшalйуa FAA $їтцкaиg BЁCAК pци яagц цитцк мєиgaйтaяйуa pцlaйg, йaмцй кaяйa dїa вёlцм мєиdapaткaи цaиg, aкнїяиуa FAA pци мёйуцяцн HЄЙКУ цитцк мёйaїкц BЁCAКИуa,

2000 aмpё ґцмaн уё вaиg, jaиgaй иgєвцт2! Dёкёт ко cцмa jalaийуa aga мцтёя dїкїт! Pїитa HЁЙКУ кёpada FAA $їтцкaиg BЄCAК!

Їуa їуa тцкaйg BAК$О pёlїт gємвlциg вaнlцl!!! JaшaЬ FAA $aмЬїl мєйgємцdїкaи BЄCAКйуa!

$ё$aмpaїиуa dїdёpaи яцмaн HЄИКУ, FAA jц$тґц мєlajцкaи BЄCAКиуa dёйgaи кєcёpaтaи тїйggї,

$тоp Ьaйg $тоооооооppPpppppp, яцмaнйуa цdaн кёlёщaтaи тцн, jёяїт HЁИКУ pada FAA $їтцкaйg Ьєcaк,

Иaмцй FAA мalaн мaкїй мёйaмвaн кёcёpaтaй lajц BЄCAКиуa,

Bц$уєт daн вaaaййиgggggg, $тооооооppPpppp, gш тaяїк lоё кaйтойg кємёиуaййуa aмpє cоpот,
pїитa HЄИКУ $aмвїl ємо$ї,

$aмЬїl ёмо$ї pцla FAA pци мёиjaшaЬ:
Bёяї$їк lоё тцкaиg BAК$О pёlїт… Кцтїlaи, кцяapaй,
Lоё тaц кaga. Оиgко$ BЄCAК кalaц 2000 кaga paкё ЯЄЁЄЁMMMMMMMMMMMMMMM!!!

Categories: Uncategorized | 2 Komentar