KISAH HARI IBU


KISAH HARI IBU

Ditulis oleh:
Eky Andie Firmansyah

Aku terduduk lemas diruang tunggu Rumah Sakit, saat mendengar kabar kalau Ibuku dimasukkan ke ruang UGD.

Berjuta perasaan buruk seolah merasuki hati dan fikiranku ketika seorang suster menutup pintu ruangan tersebut. Didalam penantianku, hanya permohonan dan doa yang bisa kupanjatkan kepada Allah SWT untuk kesembuhan dirinya.

“Ya Allah sembuhkanlah dia, angkatlah semua penyakitnya Ya Allah…” Begitulah kiranya doa yang kupanjatkan untukNya.

15 menit telah berlalu, dan kejauhan tampak seorang Dokter yang berjalan menghampiriku.
“Apa anda keluarganya?” Kata Dokter tersebut.
“Ya benar, saya anaknya. Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” Ujarku penuh Tanya.
“Alhamdulillah, kami tim medis berhasil menyelamatkan nyawa Ibu anda. Saat ini kondisinya telah berangsur-angsur membaik dan hanya perlu banyak istirahat.” Katanya memberi penjelasan.
“Terima kasih Dokter. Lalu, apa saya sudah boleh menjenguknya?” Kataku lagi.

“Oh tentu, silakan.” Jawabnya.
Seketika kutepis jauh-jauh semua fikiran buruk tentang kondisi ibu. Air mata kesedihan kini tampak mengering, berganti dengan air mata kebahagiaan.
“Terima kasih Ya Allah, engkau masih memberikanku kesempatan
untuk berada disampingnya.” Aku berucap lirih.
Setibaku diruang 601, tempat dimana Ibuku dirawat, aku langsung duduk ditepi kasur, tempat ibu berbaring. Aku membelai rambutnya dengan penuh kasih dan sayang, dan berharap kesembuhan untuknya. Tak lupa kutatap wajahnya, wajah yang nampak tenang dan berseri seri, seolah menghapus semua penderitaan dan kesedihannya selama mi, terutama setelah kepergian Ayahku menghadap Sang Pencipta. Aku terpaku. Saat itu juga, dan tanpa disengaja aku meneteskan air mata kesedihan. Air mata yang mengingatkan aku akan kesalahan-kesalahan yang telah ku perbuat selama ini.

Sejenak aku terdiam. Dalam lamunanku itu, aku kembali teringat saat-saat dimana Ibuku masih sehat dan segar, saat masih bisa menemaniku,
memanjakanku dan
mengajarkanku arti kehidupan.

Bagiku, ia sangat menyenangkan. Sosok seorang ibu sekaligus
teman, yang mungkin tidak semua anak dapat merasakannya,
Sungguh, betapa beruntungnya aku. Lalu fikiranku kembali ke
empat tahun silam, ketika
umurku menginjak 17 tahun dan menjadi seorang pelajar SMA
terkenal di Jakarta. Pada saat itu, aku tumbuh menjadi seorang
remaja yang nakal. Berbagai kenakalan seperti merokok,
berbohong, dan sering pulang hingga larut malam, telah menjadi teman baik untukku.

Hal ini tentu
membuat kedua Orangtuaku sangat khawatir. Mereka terus
menasehatiku dengan penuh kesabaran dan perhatian.
Kekerasan dan ego tak pernah
mereka gunakan dalam mendidikku, tetapi agama-lah
yang menjadi pedoman untuk terus membimbingku kepada kebaikan dan kebenaran.

Tak lama, hatiku pun luluh. Aku benar-benar tak tega melihat kedua Orangtuaku bekerja keras, banting tulang siang dan malam, serta rela melakukan apa saja demi aku, anaknya. Sejak saat itu aku bertekad untuk merubah dan membawa diri menuju arah yang lebih baik. Ditengah perubahan itu, tiba-tiba aku ditimpa musibah yang sangat membuatku merasa sedih, Ayahku terserang penyakit jantung kronis dan meninggal empat hari kemudian. Menurut Dokter, Ayah meninggal akibat terlalu banyak beban yang harus ditanggungnya, yang berpengaruh buruk kepada kesehatan jantungnya. Aku yang mendengar hal itu langsung menangis sejadi jadinya dan berteriak sekencang kencangnya untuk mengncapkan “maaf’ walaupun ku tahu itu semua telah terlambat.

Kepergian Ayahku untuk selama-lamanya membuat beban
Ibuku bertambah dua kali lipat. Tubuhnya yang semula indah, khas seorang wanita, kini telab berubah menjadi seorang wanita yang iebih kurus dan terlihat kurang menarik lagi. Kulitnya yang kusam dan peluh keringat yang bercucuran didahinya menggambarkan betapa beratnya pekerjaan dan beban yang harus Ibu pikul. Selama itu pula tak pernah kudengar keluh kesah atau penyesalan selama aku berada disampingnya. Benar benar wanita yang mulia.

Lama aku terdiam, tiba-tiba lamunanku harus berakhir ketika seorang Dokter masuk keruangan kami untuk memeriksa keadaan Ibuku.
“Bagaiman keadaan ibu saya, Dok?” Tanyaku.
“Oh… Kamu tenang saja, kondisi ibumu sudah stabil.” Jawabnya singkat.
“Kalau begitu. apa saya sudah bisa meninggalkannya untuk sementara? Karena saya harus kuliah.” Tanyaku lagi.

“Baiklah kaiau begitu, anda sudah bisa meninggalkannya sekarang. Biar Suster yang menjaga Ibu anda.” Jawabnya seraya meyakinkanku.
Setelah Dokter meninggalkan ruangan, aku mencium kening Ibu dengan lembut. Seraya kuucapkan sebuah kalimat penuh harapan ke telinganya.
“Cepat sembuh ya, Bu…” Ucapku lirih sambil kulangkahkan kakiku keluar ruangan.
Keesokkan harinya, sesaat sebelum aku berangkat ke Rumah Sakit, tak sengaja aku melihat kalender disudut dinding kamarku. Ternyata hari ini tanggal 21 Desember.

Astaghfirullah, aku hampir lupa, besok kan Hari Ibu? Lain sesegera mungkin aku pergi ke toko kue untuk membelikan ibu sebuah kue tart kesukaannya, dan empat buah lilin untuk mengucapkan pengharapan.

Setelah selesai membeli kue, aku melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit. Selama perjalanan, aku tersenyum, membayangkan bagaimana perasaan ibu ketika kuhadiahi kue di Han penuh kasih sayang untuk seorang ibu. Tak lupa kuseilipkan sepotong doa agar Allah SWT senantiasa menjaga dirinya.
Karena terjebak kemacetan lain lintas, akhirnya aku samapi di Rumah Sakit PKL 22.30 WIB. Lalu aku masuk ke kamar ibu. Karena lelah akibat perjalanan, aku tertidur dengan kepala bersandar ditepi ranjang dan tangan kanan menggenggam tangan Ibu. Satu jam kemudian aku terbangun dan sedikit terkejut ketika jam didinding telah menunjukkan PKL 22.30. itu artinya setengah jam lagi tanggal dikalender akan bergeser ke tanggal 22, Hari istimewa untuk para ibu didunia. Segera kukeluarkan kue tart yang telah kubeli tadi siang beserta empat lilin pengharapan. Menit terus berganti dan tak terasa 10 menit lagi waktu akan menuju PKL 00

Aku mulai menancapkan satu persatu lilin pengharapan keatas kue tart itu. Saat akan membakar sumbu lilin, aku menggenggam erat tangan ibu. Tangannya terasa hangat, sehangat perhatiannya kepadaku selama ini. Dan dengan segera ku bakar lilin-lilin itu.

“ibu, lihatlah empat lilin ini. Aku berharap kesembuhan untuk penyakitmu dililin yang pertama in Pada lilin yang kedua, aku ingin ibu tahu, kalau aku selalu sayang sama ibu. Lalu dililin yang ketiga, aku ingin suatu saat nanti, ibu melihatku telah menjadi seorang yang yang berhasil dan sukses. Dan dililin terakhir, aku ingin membahagiakanmu dengan segala kemampuanku…’ Ucapku sedikit terharu.

Aku tak mampu menahan kesedihanku. ibu menangis. Tangisan yang seolah-olah membuat seisi ruangan tampak ikut bersedih. PKL 00.05, suasana sangat hening. Aku hanya bisa menatap dengan tatapan kosong saat wajah ibu berubah menjadi sedikit pucat. Entah apa yang sedang kupikirkan, tiba-tiba aku tak sengaja menyanyikannya sebuah iagu.

“Kasih Ibu, Kepada beta, tak terhingga sepanjang masa…
Hanya memberi, tak harap kembali… Bagai sang surya, menyinari dunia…”
Hanya ini yang mampu kupersembahakn untuk ibu. Kemudian aku kembaii menyanyikan lagu ini untuk kedua kalinya. Dengan sangat tenang kuletakkan tangan kananku pada tangannya dan tangan kiriku dikening dan rambutnya. aku tak mampu untuk melanjutkan nyanyianku itu hingga akhir, hanya air mata yang sanggup menggantikanku.

Tepat PKL 00.15 ibuku menggenggam tanganku kuat-kuat, dan menanik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali. aku baru sadar kalau itu adalah suatu pertanda ia akan meninggalkanku untuk selama lamanya. Tiba-tiba garis-garis dilayar berubah menjadi lurus. Tak mampu kuelakkan lagi, air mataku meluncur deras dan tak mampu kubendung lagi. Tangisku pecah saat kupandang wajah ibuku yang sudah tenang meninggalkanku menghadap penciptaNya.

“ibu… Jangan tinggalkan aku….” Ujarku lemas.
“Selamat Ha.. .ri… ibu… , maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu….” Kataku penuh penyesalan.
ibu meninggalkanku pada tanggai 22 Desember, tepat dimana seorang anak yang dilahirkan dari rahimnya membenihkan sebuah perhatian dan kasih sayang serta belajar untuk memaknai anti penting kehadiran seonang ibu dihidupnya. Dan ibu juga meninggalkan empat lilin pengharapan yang belum sempat ditiupnya……

Wassalam:

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: