MASIH MERINDUKANMU


Hujan deras mengguyur daerahku waktu itu. Bersama kakak sepupuku yang menemani. Sementara kedua orang tuaku sedang bekerja. Aku mempunyai banyak saudara sepupu. Tapi diantara mereka, hanya ka Rhey lah yang paling aku sayang.
Aku sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri.
Setiap aku sendirian di rumah, ka Rhey lah yang menemaniku.
Dengan gurauan-gurauan ciptaannya selalu membuatku tertawa meskipun sama sekali tak ada yang lucu dari gurauan-gurauannya.
Mungkin aku tertawa karena melihat usahanya membuatku tertawa.

“Gak lucu aah.. masak gitu ngelawaknya. Coba bikinn aku ketawa.” Kataku.
“cara bikin kamu ketawa cuman satu.” Kata ka Rhey.
“Apa?”
“Gini caranya.” Jawabnya lalu menggelitikku.
“Aaa.. curang nih, ya gak boleh pake cara itu.” protesku dengan menahan tawa.
“terserah aku dong. Yang penting kan bisa ketawa.” Jawabnya mengelak.

⁠⁠

Tiba-tiba, “AAAARGH… Sakit… sakit banget dek… tolongin kaka..
”Ka Rhey kesakitan.
Entah apa yang terjadi padanya.
Ka Rhey kesakitan, sangat kesakitan. Ka Rhey terus memegangi pinggangnya yang sakit.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan waktu itu.
aku masih terlalu kecil.
Aku pun mengambil HP yang ada di saku ka Rhey dan mencoba menghubungi ibu.

“Assalamualaikum.
Bu,,,, tolongin ka Rhey,
Ka Rhey kesakitan. Pinggangnya ka Rhey sakit. Cepet ke sini bu.”
“Ada apa sih nak?? Tenang dulu.
Pelan-pelan ngomongnya. Ada apa?? Ka Rhey kenapa??” Tanya ibu mencoba menenangkan.
“Ka Rhey kesakitan bu,,. Ibu cepet ke sini. Di sini nggak ada orang.”
“Iya, iya. Ibu ke sana sama ayah.”

Saat itu aku sangat takut, sangat cemas dan ketakutan. aku tidak tahu mengapa aku bisa setakut itu. Seolah-olah aku mengrti apa yang sedang terjadi. Padahal aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan ka Rhey.

Ketika di rumah sakit, aku hanya menunggu dengan cemas di pangkuan ayah.
Selang beberapa saat, dokter datang. Tapi saat aku sudah tertidur pulas di pangkuan ayah.

Keesokan harinya, ketika kubuka mataku, ternyata aku sudah berada di kamarku yang nyaman. Saat itu pula aku melihat sosok yang sangat kukenal berada di sampingku sedang tersenyum padaku.

“Hei poutry,, sudah bangun kamu dek? Gimana tidurnya? Nyenyak?
” tanya ka Rhey
ketika aku menyadari kehadirannya.
Aku segera bangun dan segera memeluk ka Rhey dengan erat seolah tak mau melepasnya.
Tak terasa air mataku pun menetes. “Loh, kok nangis sih?
” tanya ka Rhey.
“Ka Rhey kemarin kenapa?
Aku takut.” Jawabku terisak.
“Kaka nggak apa-apa poutry.
Adek nggak usah khawatir.” Kata ka Rhey menenangkan.
“Poutry sayang ka Rhey. Poutry nggak mau ngeliat ka Rhey kayak gitu lagi.
Poutry nggak mau melihat ka Rhey kesakitan kayak kemarin.
” Aku masih menangis, semakin keras.
“Udah dong jangan nangis yah,
Kaka janji nggak bakal kayak gitu lagi. Tapi kamu harus berhenti nangis dulu. Kalau kamu masiih nangis kaka nanti sakit lagi loh. Jangan nangis yah.
” Kata ka Rhey.
“Iya ka, poutry janji nggak nangis lagi.” Kataku sambil menghapus air mataku.
“Iya, kamu mandi dulu gih. Bau tau.” Goda ka Rhey,

Setelah selesai mandi, aku segera pergi ke rumah ka Rhey yang hanya berjarak kurang dari sepuluh langkah dari rumahku.

Setibanya di sana, aku segera masuk ke kamar ka Rhey,
tapi tak seorangpun kutemui.

Sementara itu di kamar ibunya ka Rhey,

“Kenapa harus Ќäª♍ΰ nak?
Kenapa bukan ibu saja yang terkena penyakit itu.
Ibu rela kalau ibu yang memiliki penyakit itu.
Ibu sudah tua, sementara kamu, masih sangat muda, masa depanmu masih sangat panjang.
” Kata ibunya ka Rhey dengan menangis,
kemudian memeluk ka Rhey.
“Udah lah bu. Semua yang hidup pasti akan meninggal. Termasuk Rhey bu.” Kata ka Rhey menenangkan.
“Tapi nggak secepat ini nak.
Ibu masih ingin sama kamu,
Ibu ingin melihat kamu sukses dan bahagia.” Kata ibu ka Rhey,
saat itu ayahnya ka Rhey tak bisa berkata apa-apa.

Ka Rhey adalah anak satu-satunya, sekaligus anak kesayangan ayahnya. “Jangan beritahu ke poutry tentang ini ya bu, aku nggak mau melihat poutry sedih.” Kata ka Rhey,
di saat itu aku datang. “Assalamualaikum,
Dari tadi poutry cariin dimana-mana nggak ada ternyata pada di sini.
” Kataku mengagetkan mereka,
segera mungkin mereka menghapus air mata yang ada di pipi mereka. “Waalaikumsalam.
eh, ada poutry. Sini dek.” Kata ka Rhey.
Aku menghampiri ka Rhey,
kemudian ia memelukku dengan menangis.
“Loh, ka Rhey kok nangis? Kenapa?” tanyaku dengan polos.
“Nggak apa-apa kok poutry. Kaka Cuma seneng ade ada di sini.
” Jawab ka Rhey.
Kemudian ka Rhey melepas pelukannya.
“Ka, maen yuk.” Ajakku.
“Iya. Ayo, mau main apa?” tanya ka Rhey.

*****
Minggu demi minggu kulewati bersama ka Rhey, aku tak ingin berpisah dengannya walaupun hanya beberapa jam saja.
Aku ingin selalu bersamanya seolah merasa waktu itu adalah saat-saat terakhirku bersama ka Rhey.

Suatu hari, aku melihat ayahnya ka Rhey sangat panik dan tergesa-gesa menuju mobil disamping jalan.

Sesaat kemudian mobil itu malaju di tengah derasnya hujan.
Terlihat samar-samar dua penumpang di kursi belakang. Mungkin itu ka Rhey dan ibunya.
Mereka pergi tanpaku. Aku sendirian di rumah. Hatiku resah, aku merasa seolah sesuatu yang buruk akan terjadi pada ka Rhey.
Aku mulai menangis, aku berlari menuju teras rumah, kemudian memeluk ayah.
“Ayah,,,, ka Rhey sama ayah dan ibunya tadi kemana?
Ayo kita susul. Aku takut.” Kataku sambil menangis di pelukan ayah. Kami pun pergi menyusul ka Rhey.

Ternyata tempat yang kami tuju adalah rumah sakit.
“AYah, ini kan rumah sakit. Kita kok ke sini?” tanyaku heran.
“Ka Rhey ada di dalam sedang dirawat nak.” Jawab ayah.
Sesampainya di dalam. Aku melihat ayah dan ibunya ka Rhey sangat panik.
Mereka sedang menangis.
Aku semakin resah aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada ka Rhey.
Kami hanya bisa berdoa, berdoa dan menunggu.

Empat puluh menit berlalu, tak seorangpun keluar dari ruangan tempat ka Rhey berbaring lemah.
Kami sangat khawatir.
Saking lamanya aku tertidur di pangkuan ayahku.

Ketika aku terbangun, aku sudah berada di kamar ku. Seperti biasa, ka Rhey sudah berada di sampingku. “Selamat pagi poutry.
Gimana tidurnya? Nyenyak?” Tanya ka Rhey.
Aku hanya terdiam.
“Dek, dengerin kaka ya, kaka mau pergi, kaka perginya lama banget,
dan nggak bisa ketemu poutry lagi.
Poutry jaga diri yah.
Kaka nitip ayah sama ibu.
” Kata ka Rhey.
“Loh, emang ka Rhey mau kemana? Poutry ikut ka. Poutry nggak mau ditinggalin ka Rhey.
Poutry mau sama ka Rhey.
” Aku mulai menangis,
aku menghampiri ka Rhey dan ingin memeluknya. Tapi ka Rhey tidak membiarkanku memeluknya.
“Kamu harus ingat dek, kaka sayang sama poutry.
Selamat tinggal.
” Ka Rhey pun menjauh.
“Ka Rhey. Jangan pergi, jangan tinggalin poutry.
Ka Rhey berhentiiiii.
” Aku berteriak semakin keras. Akupun terbangun, aku lega aku hanya bermimpi.
“Alhamdulillah, itu cuma mimpi. Nggak mungkin ka Rhey ninggalin aku.
Ka Rhey, aku harus nemuin ka Rhey.
” Aku berlari menuju rumah ka Rhey.

Sesampainya Ək̶̲̅υ̲
Di depan rumah ka Rhey, banyak orang di sana ada para tetangga, saudara jauh, saudara dekat, teman-teman ka Rhey dan masih banyak lagi.

Ibu melihatku lalu kemudian menghampiriku, kemudian memelukku.
“Ada apa Bu? Kok rame banget di rumah ka Rhey.
Ka Rhey ada di rumah kan Bu?” tanyaku.
“Yang sabar ya nak”
aku tak mengerti maksud dari kalimat yang diucapkan ibu.
Aku berlari mesuk ke rumah. Menghampiri ibunnya ka Rhey yang sedang menangis.
“Bu,,, ka Rhey mana?” tanyaku.
Dia tidak menjawab, dan masih menangis.
Kuulang pertanyaan yang sama.
“Bu,,, ka Rhey mana?” kemudian dia memelukku.
“Mana ka Rhey, aku mau ketemu sama ka Rhey. Bawa sini ka Rheynya.
” Aku mulai menangis, semakin lama semakin keras. Aku histeris beteriak-teriak memanggil nama ka Rhey.

Di hari itu aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. aku terpukul, meskipun aku masih sangat kecil, aku mengerti. Aku mengerti semua yang terjadi waktu itu. Tentang sakit itu, rahasia itu, dan mimpi itu.
Hari ini, Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagiamu. Di sertai gerimis hujan, kami lantunkan doa-doa untukmu. Semoga ka Rhey bahagia di sana. Aku sangat merindukanmu ka. Ka Rhey juga masih menjadi kakak kesayanganku. Aku sayang ka Rhey!!!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: