SAHABATKU


Hujan terus mengguyur kota Jakarta sejak sore.
Nabila sudah basah kuyup.
… Gadis kecil tersebut
menggigil kedinginan di pinggir jalan. Tepatnya ϑΐ depan sebuah toko yang sudah tutup. Tangan kecilnya mulai membiru. Kaki dengan sandal
yang berbeda warna tersebut terus gemetar.
Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.
Tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Gadis kecil tersebut tidak ada tenaga untuk berjalan lagi
karena dia juga belum makan sejak tadi siang.
Nabila mulai menangis. Kenangan masa lalunya mulai bermunculan.
Dimana saat itu dia bergandengan
tangan dengan ayah dan ibunya.
Lalu kenangan tersebut berganti dengan kejadian lain yang membuat senyum manisnya hilang.
Kejadian ϑΐ mana kedua orang tuanya meninggal karena tabrak lari di depan matanya sendiri.

Saat itulah hidupnya mulai berubah. Setelah kedua oarang tuanya meninggal, dia di asuh oleh bibinya.
Namun, tidak lama kemudian bibinya Ĵчğå meninggal karena penyakit TBC.
Sejak saat itu orang-orang mulai menganggap Nabila gadis pembawa sial.

Sekarang dia hidup di jalanan. Dia
tinggal di rumah kardus bersama seorang nenek yang sudah tua. Flashback tentang masa lalunya
membuat hatinya semakin perih. Kadang dia mengeluh pada Tuhan kenapa hidupnya begitu
menderita. Kenapa Tuhan tidak segera mencabut nyawanya agar dia bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya.

Saat kesadarannya hampir hilang, samar-samar dia mendengar seseorang memanggil namanya.
Perlahan-lahan suara tersebut semakin jelas.
“ Nabila, kamu nggak apa-apa kan?” tanya seseorang
dengan khawatir.
Nabila mengenali suara itu. Yah,
itu adalah suara Irul.
Irul adalah satu-satunya orang
yang menganggap nabila penting. Usia Irul dan Nabila
tidak terpaut jauh. Hanya beda satu tahun. Umur Nabila hampir 10 tahun sedangkan Irul 11 tahun.
Sejak pertama kali bertemu, Irul sudah
menganggap Nabila sebagai sahabatnya karena nasib mereka yang hampir sama.

“Nabila, ayo bangun, jangan tinggalin aku.. Ќäªmu jangan mati.. ntar aku sama siapa?” Irul mulai panik karena tubuh Nabila tidak bergerak. Dia mulai
menggoncang-goncang tubuh Nabila sambil menangis.
“apaan sih kamu Rul, sakit tahu.. “ jawab Nabila lemah.
“Dasar.. jadi kamu ga mati? kamu naku-nakutin aku ajah. Ayo kita pulang. Nenek sedang
menunggu kamu. Dia khawatir tau sama kamu.”
Ucap Irul sambil membantu nabila untuk bangun.
Mereka pulang bersama.

+++
Esoknya..
“Nabila, kamu udah ga apa-apa? muka kamu pucet ”
ucap Irul ketika mereka berpapasan di jalan.
Irul memegang kening Nabila lalu bergantian memegang keningnya.
“Tuh kan, badan kamu panas” ucapnya.
“Aku ga apa-apa. Udah sana sekolah. Nanti telat loh” ucap Nabila mencoba untuk menghapus kekhawatiran Irul.
“ya udah hati-hati yah. Nanti sepulang sekolah aku bakal beliin kamu obat” ucap Irul.

Irul memang lebih beruntung daripada Nabila. Irul masih dapat bersekolah karena beasisiwa.
Irul adalah juara umum di sekolahnya sehingga dia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah.
Walaupun Irul pintar dan juga cerdas dia tidak pernah sombong. Dia sering mengajarkan pelajaran kepada teman-teman lainnya yang tidak
mempunyai kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah seperti halnya Nabila. Irul sangat bersahabat, periang, ceria dan juga baik hati.
Sifatnya memang bertolak belakang dengan Nabila yang pendiam dan jutek. Namun, Irul selalu
berfikir bahwa sifat pendiam dan jutek adalah karena dia kesepian.
Oleh karena itu, dia tidak boleh membiarkan Nabila sendiri dan kesepian lagi.
Terbukti setelah Irul giat mendekati Nabila dan mengajak Nabila berteman, sifat pendiam dan jutek Nabila mulai berkurang. Perlahan Nabila mulai
menganggapnya teman.

+++
“Hheii…”Irul mengagetkan Nabila yang sedang melamun di pinggir jalan.
“Huh.. kamu mau bikin aku jantungan yah” oceh Nabila. Dia kaget setengah mati.
“Lagian kamu sih siang hari gini malah melamun,
bukannya cari uang.” ucap Irul membela diri.
“Eh, tapi muka kamu masih pucet tuh. Jangan- jangan kamu belum makan ya? dasar.. udah tahu
lagi sakit, tapi kenapa ga makan dulu sebelum kerja? kalau kamu pingsan di tengah jalan gimana? siapa coba yang nolong kamu?”
cerocos Irul yang kesal melihat sahabatnya yang tidak memperhatikan kesehatanya itu.
“Huh.. kamu tuh kaya ibu-ibu tau ga? Cerewet banget sih.. lagian mana bisa aku beli sarapan..
Ояaиg tadi sore aku ga dapet uang sepeserpun.”
Jawab Nabila kesal.
Irul terdiam sejenak. Dia teringat kejadian tadi malam yang menurutnya cukup mengerikan karena dia sempat berfikir bahwa dia akan kehilangan Nabila. Lalu dia segera membuka tas lusuhnya.
Dia mengeluarkan sepotong roti yang
di berikan oleh ibunya tadi pagi. Dia memotong roti tersebut menjadi dua. Lalu memberikan sebagian roti tersebut kepada Nabila.
Nabila menerimanya dengan ragu.
Irul Ĵчğå mengeluarkan botol plastik minuman dan satu tablet obat demam yang dia beli di warung.
“Setelah makan roti, kamu harus minum obat ini yah” ucap Irul sambil memberikan obat dan botol minumannya.
“Terimakasih. Harusnya kamu ga usah repot- repot” kata Nabila tidak enak.
“Ga apa-apa. Aku ga mau kamu sakit” ucap Irul sambil tersenyum.
Mereka makan roti bersama.
Setelah itu mereka segera pergi mengamen di lampu merah dengan
ceria. Langit yang berawan seolah melindungi mereka dari panasnya matahari di siang hari itu.

+++
Sore hari di perjalanan pulang..
“Pendapatan kita hari ini lumayan banyak yah “
ucap Nabila senang. Setidaknya nanti malam diabisa membeli nasi untuk dia dan neneknya.
Sekaligus bisa menyisihkan sedikit uang untuk makan esok paginya.

“ya Alhamdulillah. Hehe.. ibu pasti senang deh nerima uang ini” ucap Irul senang sambil melihat
uang hasil kerja kerasnya itu.
Tanpa Irul sadari, muka Nabila berubah sedih. Dia teringat orang tuanya. Andai mereka masih hidup.
Diam-diam Nabila iri dengan Irul yang masih memiliki seorang ibu di bandingkan dengan dirinya yang tidak punya siapa-siapa. Selain itu Irul
juga memiliki kesempatan untuk sekolah sedangkan dia tidak.
Tanpa disadari Irul, Nabila berhenti di depan etalase sebuah toko. Rupanya
Nabila tertarik dengan sebuah gaun berwarna pink dengan renda-renda di pinggirnya yang ϑΐ pasang di depan etalase toko tersebut.
Dia mengingat sesuatu. Yah, dia ingat, dulu sebelum kedua orang tuanya meninggal, mereka berniat
untuk membelikan gaun tersebut kepada Nabila sebagai hadiah ulang tahun Nabila yang ke sembilan.
Tanpa sadar air mata Nabila mengalir
mengingat kejadian waktu itu.
Dia teringat senyum ibunya yang begitu tulus.
“Nabila sayang, kamu suka sama gaun itu?” tanya ibunya. Saat itu mereka sedang melewati etalase toko yang memajang sebuah gaun pink berenda yang indah.

“Iya bu, aku suka sama gaun itu” jawab Nabila senang.
“Oke.. besok kita ke sini lagi yah sama ayah buat beli gaun itu. Ayah dan ibu sudah mengumpulkan uang buat beli hadiah yang Nabila suka” kata ibu tersenyum,

Esok paginya mereka bertiga pergi ke toko tersebut. Namun saking senangnya, Nabila berlari
menghampiri toko yang ada di seberang jalan.
Sang ibupun segera menyusul Nabila, namun Saat mereka ada di tengah jalan raya, tiba-tiba ada sebuah mobil truk yang melaju kencang.
Ayah yang mengetahui bahaya yang di hadapi anak dan istrinya langsung mendorong mereka berdua ke pinggir jalan. Namun naas, ayah Nabila tidak
sempat menghindari truk tersebut.

Dengan seketika tubuh ayah Nabila terlempar ke jalan
dengan darah mengalir deras dari kepalanya.
Ayahnya meninggal seketika.
Ibu yang kaget langsung berlari mendekati ayah, namun dari arah samping, sebuah mobil mini bus melaju kencang dan langsung menabrak tubuh ibu Nabila
hingga dia meninggal seketika di samping ayahnya.
Saat itu Nabila langsung menjerit.

Itulah awal semua penderitaanya.
“Kamu kenapa?” tanya Irul menyadarkan lamunan Nabila. Irul khawatir karena tadi tiba-tiba Nabila
menghilang, ternyata dia menemukan Nabila yang menangis di depan etalase toko.
“Aku ga apa-apa” jawab Nabila sambil mengusap air matanya dengan kaos lusuhnya.
“jangan bohong deh. Kalau ga apa-apa kamu Ъќ mungkin nangis” ucap Irul tidak percaya.
Akhirnya Nabila menceritakan semua beban hidupnya kepada Irul. Semua beban yang sudah dia simpan selama hampir satu tahun. Semua kesedihan dan kegundahan yang ada di hatinya,
dia curahkan semuanya pada Irul sahabatnya.
Irul mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia sesegukan. Terharu mendengar kisah hidup Nabila.
Dia tidak menyangka sahabatnya yang selalu kelihatan kuat ternyata menyimpan duka dan lara yang begitu dalam.
Dalam hati dia bertekad untuk membuat Nabila ceria
dan bahagia lagi. Apapun caranya.

+++
“Irul mana bu?” tanya Nabila kepada ibunya Irul.
Akhir-akhir ini dia jarang sekali melihat Irul. Dia khawatir Irul kenapa-napa. Oleh karena itu dia sengaja datang ke rumah Irul untuk menanyakan
kabar Irul pada ibunya.
“ooohh.. Irul sedang ngamen. Ibu juga ga ngerti.
Dari kemarin setiap pulang sekolah dia langsung ngamen tanpa pulang dulu. Padahal kan biasanya dia pulang dulu buat ganti baju. Selain itu dia
juga sering pulang larut malam. Ibu juga khawatir takut Irul kenapa-napa” jawab ibunya Irul khawatir.

“Emm.. makasih ya bu, saya cari Irul dulu” ucap Nabila.
Dia bingung dengan sikap Irul yang berubah.
Ada apa sebenarnya. Itulah pertanyaan yang ada ϑΐ benak Nabila.

+++
Sudah dua minggu Nabila tidak bertemu dengan Irul.
Yang dia tahu dari teman-temannya, Irul pindah dari tempat ngamen yang biasanya.
Oleh sebab itu dia tidak pernah bertemu dengan Irul.
Nabila benar-benar khawatir dengan sahabatnya sekaligus rindu dengan sikap Irul yang ceria dan
selalu membuatnya tersenyum.

“Nabilaaaa..” teriak seseorang memanggilnya.
Membangunkan Nabila dari lamunanya.
“ada apa ndie ?” tanya Nabila pada Andie, teman Irul.
“tadi aku ketemu Irul. Dia nitip ini buat kamu”
kata Andie sambil menyerahkan sepucuk surat pada Nabila.
Nabila segera membaca surat surat tanpa amplop tersebut.

“Dear Nabila..
Aku tunggu kamu di depan etalase toko yang memajang gaun indah berwarna pink.
By: Irul“

Deg, apa yang di lakukan Irul di sana. Tiba-tiba perasaan Nabila jadi tidak enak. Dia segera berlari
menuju toko tersebut.

+++
Sekarang dia telah sampai di seberang toko tersebut. Nafasnya masih tidak teratur.
Dia berusaha untuk mengatur nafasnya dulu.
Namun, di seberang jalan tempatnya berdiri, tampak sesosok anak laki-laki berpakaian lusuh sedang melambai-lambaikan tangan sambil berusaha untuk menunjukan sebuah kantong kresek transparan yang dari jauh tampak berwarna pink di mata Nabila.

Nabila terbelalak.
Itu Irul.,, Tapi apa yang di bawanya..
“Jangan-jangan..” ucap Nabila tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Tanpa di sangka Irul berlari kecil menyebrang jalan
menuju Nabila yang ada di seberangnya. Namun, Irul
tidak sadar bahwa di sampingnya ada mobil yang melaju kencang. Nabila yang menyadarinya mulai panik. Kejadian-kejadian di masa lalunya mulai kembali muncul. Tapi sekarang Nabila tidak mau kehilangan lagi. Sudah cukup baginya mengalami
kehilangan. Kali ini dia tidak akan membiarkan orang yang di sayanginya pergi lagi.
Nabila berlari menghampiri Irul.
Dia mendorong Irul.
Mereka berdua jatuh di pinggir jalan.

“Dasar.. kamu udah gila ya ? kamu mau mati ya ?
kalau kamu mati gimana sama ibu kamu ?
gimana sama aku ? kamu jahat..” cerocos Nabila
setelah mereka selamat dari maut. Air matanya berlinang. Dia benar-benar takut kehilangan sahabatnya itu.

“Maafin aku yah. Aku Cuma mau bikin kejutan buat kamu.
Lihat!!! aku beli gaun yang waktu itu
ga sempet di beliin sama orang tua kamu..
selamat ulang tahun yah Nabila..” kata Irul sambil tersenyum.
Nabila baru sadar kalau sekarang adalah hari ulang tahunnya yang ke sepuluh. Hari di mana dia
kehilangan kedua orangtuanya sekaligus awal dari penderitaanya.

“Aku ga butuh apapun. Aku cuma mau kita bareng terus..”kata Nabila sambil menangis.
“Aku tahu. Aku ga akan ninggalin kamu. Aku cuma mau meneruskan apa yang mau orang tua kamu kasih ke kamu. Aku cuma mau kamu
tersenyum dan bahagia lagi.. hehehhe” kata Irul
“Makasih..” ucap Nabila tersenyum.

Ayah ibu terimakasih. Ucap Nabila dalam hati.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: